Eks Teroris, Fitness dan Kaus Merah Jambu

Prima Gumilang , CNN Indonesia | Rabu, 12/07/2017 12:40 WIB
Ilustrasi. Aksi masyarakat yang tak takut dengan terorisme. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di tepi peron Stasiun Citayam, Depok, Herman gelisah menunggu kereta yang akan mengantarnya ke Stasiun Karet, Jakarta Pusat. Beberapa kali dia melirik jam. Pria bertubuh kekar ini takut telat karena terlanjur janji menyampaikan khotbah di Masjid Al-Ikhlash, Rusun Karet Tengsin.

Penampilan Herman petang itu tak seperti ustaz yang akan mengisi ceramah agama. Kaus polos merah jambu yang dia kenakan agak ketat. Otot lengannya yang menonjol menggendong tas ransel. Celana jinnya berpadu dengan pantofel. Sepasang earphone menempel di telinga.

Sesekali dia mengecek ponsel dalam genggaman. Herman membuka Google dan mencari bahan bacaan tentang amal saleh yang diterima Allah SWT. Tema itu adalah materi ceramah yang akan disampaikan Herman sebelum salat tarawih pada pekan terakhir Ramadan lalu.

Di balik penampilannya yang modis, tak ada yang mengira bahwa pria 33 tahun ini seorang narapidana kasus terorisme. Pada 2010, Herman divonis 8 tahun karena mengikuti pelatihan militer di Aceh untuk bekal jihad.

Setelah dipenjara 5 tahun 2 bulan, dia kini bebas bersyarat dan wajib lapor polisi.

Herman bukan nama sebenarnya. Dia tak bersedia disebutkan identitasnya karena alasan keamanan, selain untuk menghindari timbulnya kebencian.

Pria berjanggut ini berusaha menutupi status narapidana teroris yang dianggapnya sebagai aib.

Empat bulan sebelum keluar dari penjara pada 2015, Herman mengusung keluarganya ke Citayam. Dia tinggalkan Tanah Abang, Jakarta Pusat, tempatnya dibesarkan.

Keputusan itu diambil untuk menghindari reaksi warga setempat yang tak siap menerima saat dia kembali ke masyarakat.

“Saya pindah untuk menghindari omongan masyarakat yang enggak enak, daripada emosi dengar yang macam-macam, lebih baik saya menghindari konflik,” kata Herman saat ditemui di rumahnya, Juni lalu.

Di sebuah gang kecil di kawasan Citayam, Herman menjalani keseharian bersama istri dan seorang putra. Herman merasa nyaman berada di lingkungannya saat ini lantaran tak ada yang tahu statusnya.

“Di sini enggak ada yang tahu [Herman mantan teroris], mungkin hanya Pak RT yang tahu. Saya low profile saja, berusaha menjadi orang normal. Makanya pakai levis, supaya enggak mencolok,” ujarnya.

Pusat Kebugaran

Di sana, dia menemukan komunitas baru di tempat pusat kebugaran. Herman juga diminta melatih fitnes. Olahraga ini sebenarnya sudah dia jalani sejak empat tahun lalu. Herman belajar secara autodidak saat masih mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur.

"Aktivitas saya di sini, fitness. Saya cari komunitas baru, kadang sama yang punya [tempat] disuruh melatih orang baru," katanya.

Eks Teroris, Fitnes dan Kaus Merah JambuIlustrasi tempat olah raga. (CNN Indonesia/Megiza)
Di luar itu, dia mengajar di beberapa tempat atas permintaan kerabat. Bahkan hampir tiap bulan Herman menjadi narasumber seminar terkait program deradikalisasi yang diadakan sejumlah yayasan atau lembaga negara.

"Penghasilan kalau ditotal [setara] UMR, tapi kadang di bawahnya," ujar Herman.

Dia juga menawarkan jasa praktik bekam dan rukiah sebagai pekerjaan sampingan. Usaha ini pernah berkembang sebelum dirinya ditahan, meski kini hanya menunggu panggilan. Banyak pula bekas pasiennya yang menawarkan pekerjaan setelah dia bebas, termasuk bekerja di tempat fitnes.

Meski demikian, Herman enggan berkegiatan agama di Citayam. Namun di Tanah Abang justru sebaliknya, dia aktif berdakwah. Ini cara Herman membangun kembali nama baik, selain berbaur dengan masyarakat.

Selama Ramadan lalu, dia tercatat dua kali menjadi penceramah dan empat kali bertugas sebagai imam salat tarawih di Masjid Al-Ikhlash. Ini menjadi bukti bahwa dirinya telah diterima kembali di masyarakat yang pernah mewaspadai gerak-geriknya.

Usai salat isya malam itu, dia naik ke mimbar. Herman mengenakan peci putih, busana muslim dan berbalut sarung. Orangtua, anak muda, dan bocah-bocah di masjid itu menyimak ceramahnya yang lantang.

Dia menyampaikan ceramah tentang beberapa amal saleh yang perlu dilakukan manusia agar terhindar dari malapetaka.

Sama sekali tak ada pesan bermuatan radikal yang terlontar. Beberapa ayat suci yang dia kutip terdengar fasih.

“Masyarakat awalnya sempat memandang sebelah mata, apalagi kasus terorisme, secara umum masyarakat menganggap saya penjahat. Tapi karena sering tampil ceramah, mereka jadi tahu pemahaman saya," katanya.

Diberikan Kesempatan

Herman menambahkan, sebelum terlibat kasus, dia sering memberi tausiah di majelis taklim, baik remaja maupun ibu-ibu, di masjid tersebut. Karena itu, dia enggan menolak permintaan ceramah setelah bebas.

“Kalau diundang ceramah saya penuhi, sehingga mereka memandang saya normal lagi. Itu yang kami inginkan,” katanya.

Salah satu pengurus Masjid Al-Ikhlash Muhammad Azhari bercerita, marbut sempat rapat kecil sebelum memutuskan untuk menerima Herman kembali.

Azhari mengatakan, pembicaraan itu untuk memastikan bahwa Herman sungguh-sungguh ingin mengubah jalan hidupnya. Kesempatan akhirnya diberikan.

“Karena beliau sudah menunjukkan perubahan, secara tegas menyatakan bersalah dan ingin kembali ke jalan yang benar, kami terima dan jadwalkan [ceramah],” ujarnya.

“Ketika beliau jadi imam, alhamdulillah pada suka karena bacaannya seperti imam Masjidil Haram, orang yang pernah umrah dan haji bilang, seperti berada di Mekah,” tambah Azhari.

Eks Teroris, <i>Fitness</i> dan Kaus Merah JambuMasjid Al-Ikhlash, tempat Herman berceramah. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Ayah Herman, kata Azhari, juga tokoh agama sekaligus penasihat masjid yang membina jamaah setempat. Keluarganya pun syok saat mengetahui Herman ditangkap polisi. Para pemuda masjid juga kena imbasnya karena polisi mencurigai orang-orang di sekitar Herman.

“Kami dicurigai memiliki pemahaman yang sama, padahal enggak ada sangkut pautnya. Beliau murni sendiri beraktivitas itu. Enggak ada yang menyangka, memang [Herman] sering keluar kota, tahu-tahu di berita sudah ada fotonya,” terang Azhari.

Sebelumnya, kata Azhari, seniornya itu memang memiliki pemahaman yang berbeda dari mayoritas pemuda di lingkungannya. Banyak yang tak setuju dengan jalan pikiran Herman. Sejak itu mereka lebih hati-hati dalam pergaulan.

“Dari sekian remaja di sini, hanya beliau saja yang memilih jalan itu,” kata Azhari di Masjid Al-Ikhlash.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Terjebak Nostalgia Eks Teroris

1 dari 2