Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan, polisi tengah menulusuri jejak WNI yang menjadi simpatisan ISIS dengan menemui pihak keluarga masing-masing.
"Kami memperkuat perbatasan, kemudian melakukan monitoring terhadap mereka yang sudah pulang yang ada di Indonesia keluarganya," kata Martinus di Mabes Polri, Jakarta Selatan, kemarin (12/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya mereka yang berangkat melalui Malaysia atau Singapura dengan alasan mau sekolah atau wisata," katanya.
Lihat juga:Kabur dari ISIS, 17 WNI Ingin Pulang |
WNI Melarikan Diri Dari ISIS. (Courtesy CNN Indonesia TV) |
Seluruh langkah itu harus dilakukan karena Polri yakin situasi yang terjadi di Irak dan Suriah akan berdampak pada situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Indonesia.
"Jadi itu yang kami data. Karena, apa yang terjadi di luar negeri akan berdampak, baik secara langsung maupun tidak langsung, karena ada WNI di sana," tuturnya.
Setelah sekitar dua tahun menjadi simpatisan ISIS di Suriah, belasan warga negara Indonesia akhirnya memutuskan untuk kabur. Kini, mereka sedang berada di Kamp Ain Issa dan menyatakan ingin pulang ke Indonesia.
Salah satu WNI yang diwawancarai oleh CNN Indonesia, Nurshadrina Nailah menuturkan, dirinya dan 16 WNI lain ingin pulang karena menemukan banyak perbedaan antara yang dijanjikan di media sosial dengan kenyataan di lapangan.
“Ketika di asrama itu, saya melihat keanehan dan perbuatan yang jauh dari Islam,” kata Nurshadrina.
Sementara itu, WNI lain bernama Difansa Rahmani menyampaikan, dari 17 WNI tersebut, 12 di antaranya berada di kamp Ain Issa, sementara lima laki-laki lainnya mendekam di penjara Kobane.
