Hal itu, menurutnya, terlihat dari sikap pemerintah yang berkukuh dengan angka ambang batas presiden (presidential threshold) sebesar 20/25 persen dalam Rancangan Undang-undang Penyelenggaraan Pemilu (RUU Pemilu). Fadli menyebut, besarnya ambang batas itu mengarah pada calon presiden tunggal.
"Yang ada sekarang itu pemerintah sedang berusaha untuk menjegal Pak Prabowo untuk menjadi calon dan ini tidak masuk akal," kata Fadli di Gedung DPR, Jakarta, Senin (17/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Ketua DPR ini menilai, secara logika ambang batas presiden sebesar 20/25 persen cenderung menjegal bakal calon presiden dan tidak relevan digunakan. Sebab menurutnya, pemilu mendatang dilaksanakan secara serentak.
Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) di kediaman orangtua Prabowo, Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Sebelumnya, lima fraksi partai lainnya yaitu PAN, Gerindra, PKB, PKS dan Demokrat sepakat membawa kelanjutan pengambilan keputusan lima opsi paket RUU Pemilu ke dalam rapat paripurna.
Sementara lima partai lain yakni PDIP, Golkar, NasDem, Hanura dan PPP sudah sepakat dengan opsi paket A. Opsi ini sama dengan pandangan mini pemerintah yang menghendaki ambang batas presiden 20/25 persen, ambang batas parlemen 4 persen, sistem pemilu terbuka, besaran kursi 3-10 dan metode konversi suara saint lague murni.
