Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Mada Sukmajati memprediksi, penetapan Setya sebagai tersangka di kasus korupsi e-KTP akan berpengaruh terhadap konstelasi politik nasional dalam waktu dekat. Dampaknya akan terasa jika jabatan Setya sebagai Ketua DPR dan Ketua Umum Golkar diganti seiring dengan status tersangka korupsi yang ia sandang.
"Intinya, siapa yang menjadi ketua Golkar dan DPR gantikan Setya itu yang juga akan mempengaruhi konstelasi politik nasional. Mungkin juga berpengaruh untuk pileg dan pilpres 2019 nanti," kata Mada kepada CNNIndonesia.com, Senin (17/7) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Idealnya pengganti (Ketua DPR) dari partai pemenang pemilu. Tapi kan juga tergantung proses politik (negosiasi)," katanya.
Setya Novanto saat dijamu Presiden Joko Widodo di Istana, beberapa waktu lalu. CNN Indonesia/Christie Stefanie) |
"Yang menarik dan menentukan justru respons internal Golkar, apakah kemudian akan ada Munaslub lagi untuk memilih ketum baru atau seperti apa," katanya.
Desentralisasi kuasa di internal partai beringin yang timbul pasca orde baru dianggap sebagai faktor utama tak terpengaruhnya persiapan Pilkada dengan penetapan Setya sebagai tersangka oleh KPK Terlebih, ujar Mada, dalam konteks Pilkada masyarakat pemilih tak begitu memperhatikan sosok figur pemimpin partai untuk menentukan calon kepala daerahnya.
"Dalam pilkada, pemilih cenderung tidak melihat parpol pengusung tapi lebih ke figur kandidat. Masih terkait poin itu, isu korupsi kan masih belum menjadi prioritas bangsa ini. Jadi, pemilih juga tidak menempatkan isu ini sebagai pertimbangan utama menentukan pilihannya," tuturnya.
[Gambas:Video CNN] (gil)
Setya Novanto saat dijamu Presiden Joko Widodo di Istana, beberapa waktu lalu. CNN Indonesia/Christie Stefanie)