"Sehingga yang salah itu dibenarkan. Nah, ketika dia melakukan itu dengan cara kekerasan maka radikalisme itu jadi moderat," kata Lukman di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (22/7).
Lihat juga:Menag: Kehidupan Agama Semakin Mengeras |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perbedaan kehendak Tuhan, yang dituntut dari kita itu adalah saling memanusiakan sesama kita meski berbeda keimanan," ujar putra dari menteri agama di era Presiden Soekarno, Saifuddin Zuhri, tersebut.
Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos, Nahar memaparkan, penanganan yang dilakukan berupa rehabilitas dengan pendampingan orang tua sang anak.
Nahar mengatakan proses rehabilitasi itu umumnya memakan waktu satu bulan. Saat ini, Kemensos telah memulangkan seluruh anak yang terpapar paham radikalisme tersebut.
Kendati demikian, pihaknya menduga jumlah anak yang terkena paham tersebut akan semakin bertambah dan belum berhenti. Dalam pencarian korban, Kemensos sendiri dibantu oleh Kemenag dan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri
Penyebab dari terpaan ini, jelas Nahar, pola pengasuhan orang tua yang tidak dekat dengan anak saat belajar. Anak seringkali dibebaskan dalam belajar menggunakan gadget, sehingga dapat membuka internet salah satunya media sosial youtube sepuasnya.