"Sebetulnya, harus banyak persuasi kepada masyarakat karena rata-rata kebakarannya karena pembukaan lahan tradisional masyarakat secara serentak," ujarnya di sela-sela Rapat Kerja Nasional KLHK 2017 di Gedung KLHK, Jakarta, Rabu (2/8).
Siti mengatakan, hotspot atau titik api di Indonesia semakin bertambah. Hingga bulan Juli 2017, titik api meningkat 49 persen dibanding dengan Juli 2016, serta meningkat 27 persen dibanding Juli 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Siti menambahkan, pemadaman darat juga harus gencar dilakukan karena sebaran api di wilayah itu berada di area yang relatif kecil.
Dia mencontohkan bahwa satgas kebakaran hutan di Kalbar pun sempat terkendala operasionalnya.
Terkait kebakaran hutan di Nusa Tenggara Timur, Siti menyebut bahwa penyebabnya adalah ladang rumput alang-alang yang kering, dibakar untuk mendapatkan rumput hijau.
Adapun antisipasi mencegah kebakaran hutan semakin meluas jelang musim kemarau, Siti mengaku telah mengerahkan satgas untuk selalu memantau titik api di lokasi rawan kebakaran hutan.
"Di beberapa provinsi seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, sudah mapan satgas patroli terpadunya. Di Riau meski hotspot selalu ada, tapi penanganannya cepat," katanya.
Siti juga mengakui bahwa kebakaran hutan adalah tugas utama kementeriannya untuk segera bisa diselesaikan.