Salah satunya adalah kerja sama dengan institusi atau pihak lain yang terkesan mandek. Humas BNN, Kombes Sulistiandriatmoko mencontohkan kerja sama yang tak berjalan baik itu di antaranya dengan Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
"Mereka tidak buat program dan diam saja. BNN pernah susun modul bahaya narkoba untuk TK sampai SMA, sampai sekarang tidak ada follow up nyata. BNN pernah buat silabus dakwah bahaya narkoba untuk dakwah, sampai sekarang langkah dari kementerian agama belum kelihatan," kata Sulis saat ditemui CNNIndonesia.com di kantor BNN, Jakarta Timur, Jum'at (4/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sulis memandang seharusnya penangkapan itu membuat kalangan artis semakin waspada. Jangan malah berpikir kalau polisi mencari populartias karena menangkap artis.
"Kalau meraka belum sadar dan peduli, polisi akan shock therapy terus. Dengan menangkap polisi itu kan memberikan pelajaran," kata Sulis.
Sulistiandriatmoko. (CNN Indonesia/M. Andika Putra) |
Terlepas dari jalannya kerja sama yang tak baik, Sulis mengatakan BNN memiliki keterbatasan, terutama untuk melakukan sosialisasi
"Masih banyak keterbatasan pada BNN, baik dari sisi jumlah sumber daya manusia, anggaran, sarana dan prasarana. Sehingga tidak mampu menjangkau keseluruhan," kata Sulis.
Sulis menjelaskan idealnya BNN harus memiliki personel sebanyak 74 ribu. Namun, saat ini hanya ada sekitar 4.700 personel dan 1.000 personel di antaranya bertugas untuk sosialisasi pencegahan.
"Memberikan pemahaman pada masyarakat mengenai pencegahan narkoba memang tidak membutuhkan uang? Diatas kertas, BNN tidak bisa buat apa-apa kalau dihadapkan dengan tantangan itu, hanya semangat saja," kata Sulis.
Sulistiandriatmoko. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)