“Ini tidak terlepas dari konteks yang terjadi belakangan ini. Jadi Jokowi mulai menunjukkan bahwa dia sebagai presiden yang punya power (kekuatan). Dia menunjukkan itu,” kata pengajar psikologi politik Universitas Indonesia (UI), Dicky Pelupessy kepada CNNIndonesia.com, Selasa (8/8).
Jokowi, ia menjelaskan, selama ini atau pada awal-awal masa kepresidenannya dipersepsikan tidak cukup memiliki kekuatan politik. Salah satu faktornya, Jokowi yang hanya kader PDI Perjuangan dipersepsikan tidak memiliki cukup kekuatan politik.
Lihat juga:Simbiosis Mutualisme Dukungan Politik Jokowi |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Joko Widodo atau Jokowi secara psikologi politik, ingin memperlihatkan begitu dengan rakyatnya. (CNN Indonesia/Christie Stefanie) |
Lihat juga:Guyon Jokowi soal Diktator di Kuis Sepeda |
Guyonan diktator itu, Dicky memaparkan, merupakan respon Jokowi yang jika diam dituding rival politiknya bakal menjadi pembenaran. Sebab, diam menunjukkan tidak memiliki power.
Lihat juga:Gejala Anti-Kritik Rezim Jokowi |
"Presiden Jokowi sekali lagi hendaknya tidak antikritik. Bagaimana pun jangan anggap semua kehidupan masyarakat sudah berjalan baik-baik saja tanpa perlu dikoreksi sedikitpun. Ingat daya beli masyarakat, pengangguran, kemiskinan, dan berbagai problem bangsa masih terus terjadi," kata Didi Irawadi dalam siaran pers yang diterima, Sabtu (29/7).
Dalam siaran tersebut, Didi menegaskan, SBY sebagai mantan presiden ke-6 RI, yang terpilih dua kali, adalah mantan pemimpin negara yang sarat pengalaman dan memiliki legitimasi memberikan serta masukan demi kemaslahatan bangsa Indoensia.
"Tidak seorangpun yang pernah dituduh makar [oleh SBY] hanya karena berbeda pendapat apalagi hanya kritik," ujar Didi.
Presiden Joko Widodo atau Jokowi secara psikologi politik, ingin memperlihatkan begitu dengan rakyatnya. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)