Menurutnya, selama ini tidak ada pimpinan KPK yang menunjukkan sikap peduli terhadap Novel pascakejadian teror penyiraman air keras oleh orang tak dikenal.
"Pimpinan KPK saya anggap menyedihkan. Untuk konteks Novel, perhatiannya menyedihkan," kata Haris
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Haris mengamini memang sempat ada pimpinan KPK, yakni Laode Muhammad Syarief yang menemui Novel di Singapura. Akan tetapi, kata Haris, itu pun karena Laode sedang berlibur ke Singapura.
TGPF itu, kata Haris, dapat membantu polisi dan KPK dalam mengungkap kasus Novel.
"Mendorong presiden untuk membentuk TGPF," kata Haris.
Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April lalu. Kala itu, Novel disiram usai menjalani salat Subuh berjamaah di masjid dekat rumahnya.
Kepolisian dan KPK lalu membentuk kerja sama untuk menuntaskan kasus Novel bersama-sama. Hingga kini, polisi belum berhasil menguak pelaku penyiraman terhadap Novel. Alih-alih meningkatkan intensitas pengungkapan kasus Novel, kepolisian justru mengganti penyidik kasus Novel.