Ketua Dewan Pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno Rachmawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Pendiri Partai Amanat Nasional Amien Rais berada di panggung itu duduk di atas kursi. Ketiganya relatif mendapatkan sorotan media.
Usai upacara awak media berkumpul di dekat panggung, menunggu Prabowo, Amien Rais atau Rachmawati untuk diminta keterangan. Kurang lebih setelah 30 menit menunggu jumpa media berlangsung dengan Prabowo dan Rachmawati sebagai narasumber.
Lihat juga:Prabowo Tebak Gaji Wartawan Kecil dari Muka |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya kami bela kalian juga para wartawan, gaji kalian juga kecil kan. Saya tahu karena kelihatan dari muka kalian. Muka kalian itu enggak bisa belanja di mal, betulkan? Jujur?” kata Prabowo sambil tertawa.
Prabowo Subianto saat upacara Hari Kemerdekaan di UBK (Detikcom/Rengga Sencaya) |
Awak media tertawa mendengar penyataan itu. Beberapa wartawan sempat melontar pernyataan guyonan menanggapi perkatan Prabowo.
"Media masaa itu pilar keempat demokrasi, terutama elite harusnya respect dengan media massa. Tidak sewajarnya Pak Prabowo katakan seperti itu, tidak bagus bagi komunikasi politik. Media dan wartawan itu jembatan elite politik ke masyarakat," kata Mada Sabtu (20/8).
Mada menjelaskan cara Prabowo membela wartawan tidak elegan.
Jika memang membela wartawan agar mendapat gaji yang tidak kecil, seharusnya Prabowo melakukan langkah kongkrit. Setidaknya melalui partai yang ia pimpin.
Partai Gerindra, kata Mada, bisa melakukan sesuatu untuk membela wartawan agar sejahtera. Apa lagi, kata dia, beberapa waktu lalu ada perusahaan media yang memutuskan hak kerja wartawan.
Seharusnya Gerindra hadir untuk membela, jangan hanya pernyataan politik dari ketua umum.
"Raja di Jawa dulu sabdanya bisa jadi kebijakan, elite politik sebenarnya enggak jauh berbeda dari itu. Seharusnya ada tindak lanjut dari Pak Prabowo. Elite hati-hati kalau berkata di media massa, apa lagi sekelas Pak Prabowo," kata Mada.
Walau hanya bercanda, Mada memrediksi ada wartawan yang merasa tidak dihargai dan dilecehkan oleh Prabowo. Perkataan yang sebenarnya hal kecil bisa menjadi hal besar bila dimaknai negatif oleh media.
Lantas bagaimana tanggapan sebagian wartawan soal ini?
Salah seorang wartawati televisi Rivana Pratiwi menuturkan bahwa kesejahteraan tak hanya soal belanja ke mal.“Kesejahteraan wartawan tidak dinilai hanya dari bisa belanja ke mall saja, terlalu sempit menilai kesejahteraan wartawan dari sudut itu," kata Rivana.
Profesi wartawan, kata Rivana, kini menjadi salah satu profesi yang bisa membuat sukses. Banyak wartawan yang menjadi ikon jurnalistik dan tentu memiliki gaji yang tidak kecil.
Ilustrasi kerja insan pers. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono |
"Kami memang pekerjaannya menunggu narasumber, apa lagi seperti Pak Prabowo yang intensitas muncul dalam suatu acara, sedikit. Momen-momen kehadiran Pak Prabowo itulah yang sangat ditunggu oleh wartawan," kata Hussein.
Sementara itu, Koordinator Divisi Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta Eric Tanjung memandang seharunya perkataan Prabowo ditujukan pada perusahaan media. Menurutnya, sampai saat ini masih banyak wartawan yang mendapat gaji yang tak layak.
Berdasarkan Survei AJI tahun 2016, gaji layak untuk wartawan pemula di Jakarta sebesar Rp 7,54 juta. Sedangkan sampai saat belum ada media yang memberikan gaji sebesar itu untuk wartawan pemula.
Saat ini gaji terbesar untuk wartawan pemula berbagai jenis yang bekerja di Jakarta belum mencapai angka tersebut. Gaji terbesar media televisi ada di Metro TV sebesar Rp 5 juta, media radio ada di KBR 68 H sebesar Rp 4,4 juta, media cetak di Jakarta Post Rp 5,8 juta dan media daring ada di Tribunews sebesar Rp4,7 juta.
Lebih lanjut, Eric menejelaskan apa yang disampaikan oleh Prabowo juga harus dikawal oleh media. Harus ada langkah kongkrit dari perkataan membela wartawan.
"Kita lihat akan sejauh mana wujudkan janji membela wartawan, statement itu kan janji," kata Eric.
Prabowo Subianto saat upacara Hari Kemerdekaan di UBK (Detikcom/Rengga Sencaya)
Ilustrasi kerja insan pers. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono