Tonny diduga menerima sejumlah uang dari perizinan dan proyek pengadaan di Kemenhub. Total uang yang disita dari tangannya mencapai Rp20 miliar.
"Untuk saat ini belum sampai ke arah sana (Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi). Tetapi tidak menutup kemungkinan sepanjang ditemukan bukti baru," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (24/8) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut purnawirawan Polri bintang dua itu, gerak-gerik Tonny sudah dipantau sejak tujuh bulan lalu.
Basaria menyatakan Tonny memang selalu pulang ke rumah dinasnya itu selama menjadi Dirjen Hubla. "Kalau ini tujuh bulan kami ikuti, dan dia memang tinggal di situ," tuturnya.
Tonny juga memiliki rumah pribadi di daerah Bintaro, Jakarta Selatan.
Dari rumah dinas Tonny itu, tim KPK mengamankan 33 tas ransel berisi uang pecahan rupiah dan mata uang asing yang totalnya mencapai Rp18,9 miliar. Selain itu diamankan pula 4 ATM, yang salah satunya berisi saldo sebesar Rp1,174 miliar.
Basaria menegaskan pihaknya bakal mendalami sumber uang dan siapa saja pihak-pihak yang disinyalir bakal menikmati uang tersebut.
"Nanti dikembangkan, karena dia sendiri masih lupa-lupa," ujarnya.
Tonny menyebut pernah menerima uang dari pengusaha bernama Yongki dan Sena. Namun sayangnya Tonny tak mengingat berapa uang yang diterima dan dari perusahaan mana mereka berdua.
Pria yang menduduki sejumlah jabatan di lingkungan Ditjen Hubla itu mengklaim uang-uang yang dirinya tampung tak akan disalurkan kepada pejabat di Kemenhub, termasuk Menhub Budi Karya.
"Enggak ada. Enggak ada. Saya yang pegang semua," kata dia usai diperiksa, Jumat (25/4) dini hari.