Dalam surat itu Muhaimin mendesak Suu Kyi bertindak untuk mencegah genosida terhadap etnis Ronghingya di negara itu.
"Saya minta Anda, Madam Suu Kyi, untuk melakukan apapun yang Anda mampu, untuk mencegah tentara menembaki warga Rohingya. Atau, turunkan saja medali nobel itu dari lemari Anda. Dia tidak bermakna apapun lagi, saat ini," demikian penggalan isi surat Muhaimin kepada Suu Kyi sebagaimana dilansir dari laman resmi PKB, Minggu (3/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia bahkan pernah memastikan bahwa jabatannya itu berada "di atas" presiden. Belakangan, Suu Kyi kerap dikritik karena tak berbuat banyak dalam mencegah pemusnahan etnis Rohingya yang terjadi di negaranya saat ini.
Para pengungsi mengatakan tentara Myanmar menyerang mereka, sementara pemerintah menyalahkan "teroris Rohingya" yang memicu kekerasan.
Pemerintah juga menyatakan setidaknya 400 orang tewas dalam bentrokan sejak saat itu. Di antaranya, kata pemerintah, adalah 370 "teroris." Namun, sejumlah pegiat hak asasi manusia menyebut militer juga membunuhi perempuan, anak-anak dan orang tak bersalah.
Di Indonesia, kecaman terhadap Suu Kyi dan pemerintah Myanmar juga datang dari Majelis Ulama Indonesia, PP Muhammadiyah, dan sejumlah organisasi lainnya.
"Proteksi harus diberikan kepada semua umat," ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Sabtu (2/9).