Juru bicara FPI Slamet Maarif berpendapat bahwa warga Rohingya di Myanmar saat ini tak hanya membutuhkan bantuan kemanusiaan berupa makanan dan obat-obatan, melainkan juga bantuan kekuatan berupa laskar dan persenjataan untuk melindungi diri.
"Kalau pemerintah menurunkan pasukan garudanya untuk membantu masyarakat Rohingya ke sana ya kita enggak perlu ke sana," kata Slamet saat dihubungi CNNIndonesia.com, kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:TNI AD Siap Kirim Pasukan ke Myanmar |
"Sekarang baru tahap pengumpulan pendaftaran dari tiap-tiap daerah. Nanti setelah semua masuk kemudian kami seleksi di DPP, kami pemetaan kebutuhan di sana, baru kami punya prediksi berapa kekuatan yang kita turunkan dan untuk apa di sana," ujarnya.
Sebelumnya, dalam aksi demonstrasi di depan Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta, Rabu (6/9) lalu, Slamet mengatakan FPI juga membuka posko pendaftaran dengan jumlah relawan yang mendaftar sekitar 600 orang.
Syarat utama bagi relawan yang ingin berangkat ke Myanmar, kata Slamet, harus mengantongi izin dari orang tua dan memiliki kemampuan bela diri.
"Kalau persyaratannya terpenuhi baru kita berangkatkan," ujarnya.
Slamet sendiri belum bisa memastikan keberangkatan laskar dan relawan yang telah mendaftar, namun menyatakan FPI siap mengirim laskar bersenjata jika diizinkan pemerintah.
Peran laskar bersenjata untuk mengamankan relawan yang dikirim ke Myanmar."Karena kami juga tidak ingin yang berangkat ke sana itu keamanannya tidak terjamin, maka perlu juga laskar yang berangkat bagian pengamanan di sana," kata Slamet.
FPI hari ini bersama sejumlah ormas yang tergabung dalam Presidium Alumni 212 berencana menggelar aksi demonstrasi di Masjid An-Nur di Magelang, Jawa Tengah. Demo digelar sebagai protes terhadap pembantaian etnis Rohingya di Rohingya.
Masjid An-Nur dipilih setelah Presidium Alumni 212 membatalkan aksi demo yang sedianya digelar di kawasan Candi Borobudur. Masjid An-Nur berjarak sekitatr 1,5 kilometer dari Candi Borobudur.