Sepanjang masa itu pula TNI menunggu kedatangan pesawat tempur Sukhoi SU-35 yang sedianya akan mengisi kekosongan skuadron tersebut.
Kekosongan tersebut disinggung Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo usai mengikuti Upacara Pembukaan Piala Panglima TNI di Mabes TNI, Jakarta, Jumat (8/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang bayangin sudah 18 bulan," ujar Gatot.
PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) juga telah meneken nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan Rusia, Rostec.
Kedua pihak berkomitmen untuk segera merealisasikan pertukaran Sukhoi SU-35 dengan sejumlah komoditas Indonesia.
"Mudah-mudahan Kementerian Pertahanan dan Kementerian Perdagangan mencintai TNI sehingga cepat mewujudkannya," ucap Gatot.
Nilai pengadaan 11 unit pesawat tempur Sukhoi SU-35 itu mencapai US$1,14 miliar, lengkap dengan hanggar dan persenjataannya.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut pembelian Sukhoi dengan skema imbal beli sesuai praktik pelaksanaan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.
"Ini baru pertama kali kami merasakan UU itu, sebelumnya belum terlaksana. Pelaksanaannya G to G langsung, tidak ada perantara macam-macam," kata Ryamizard di Gedung Kementerian Pertahanan, Selasa (22/8).
"Mudah-mudahan Kementerian Pertahanan dan Kementerian Perdagangan mencintai TNI sehingga cepat mewujudkannya," ucap Gatot.
Lihat juga:Mengintip Jeroan Sukhoi SU-35 |
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut pembelian Sukhoi dengan skema imbal beli sesuai praktik pelaksanaan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.
"Ini baru pertama kali kami merasakan UU itu, sebelumnya belum terlaksana. Pelaksanaannya G to G langsung, tidak ada perantara macam-macam," kata Ryamizard di Gedung Kementerian Pertahanan, Selasa (22/8).