Janji politik, kaderisasi, dan hasrat ingin mengubah negeri yang dianggap sudah terlalu kusut masai ini tentu menjadi dilema bagi anak muda yang memiliki integritas dan mimpi untuk mengubah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tomy adalah satu dari puluhan anak muda yang mendaftarkan dirinya sebagai kader pascapartai ini resmi membuka pendaftaran untuk caleg dari DKI Jakarta. Tomy mengaku dirinya mendaftar karena ingin mengubah politik yang dia anggap sudah terlalu kusut dan rusak.
Sebelum memutuskan bergabung PSI, Tomy telah bekerja di lingkungan birokrasi yakni pusat informasi Smart City yang bermarkas di balai kota Jakarta.
"Memang godaan ikut PNS juga besar, tapi sekarang saya pikir mana yang lebih penting dulu," kata dia.
"Kalau ikut partai enggak ada jaminan kita enggak kayak mereka yang sudah lebih dulu terjun politik. Bukan pesimis tapi memang kebanyakan begitu. Kalau sudah punya kekuasaan, suka pada lupa daratan," kata perempuan lulusan psikologi Universitas Padjadjaran ini kepada CNNIndonesia.com.
Arkani yakin meski tak berada dalam partai, dirinya bisa turut membuat perubahan. Perubahan kata dia, tidak perlu dilakukan dengan cara langsung terjun ke dunia politik.
"Ya mungkin orang mikirnya beda-beda, tapi buat saya berbenah diri aja bisa menimbulkan perubahan. Gini aja deh, tidak usah koar-koar mau mengubah… Kalau buang sampah saja masih sembarangan," kata dia. (kid)