Kanit 1 Renata Krimsus Polda Jatim Kompol Yasinta Mau menjelaskan pengungkapan prostitusi daring dengan korban remaja itu setelah pihaknya membekuk perempuan berinisial AS (19) warga Tambaksari, Surabaya.
Polisi lalu mengembangkan kasus tersebut hingga PFA (23) mahasiswi, warga Jojoran Kota Surabaya yang bertindak sebagai mucikari tertangkap pada 4 September 2017.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari kedua tersangka, setelah pengembangan, AS memiliki anak buah dua orang anak yang berusia 14 dan 16 tahun.
Yasinta menjelaskan, modus yang dipakai tersangka ialah saat lelaki hidung belang ingin memesan korban, mereka bisa masuk ke jaringan aplikasi pesan Line atau Whatsapp.
Di sana, lanjut Yasinta, mereka akan mengunggah nama dan foto calon korban.
Yasinta menambahkan, tarif yang dipatok keduanya antara Rp1 juta sampai Rp1,5 juta. Tersangka akan mengambil Rp200 ribu, sementara sisanya diberikan kepada korban.
"Nanti disepakati janjian di suatu tempat. Dan, di suatu tempat itulah transaksi dilakukan," ujarnya.
Atas perbuatannya itu, kedua pelaku dijerat pasal 88 UU RI No 35 tahun 2014 tentang perubahan UU RI No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak atau pasal 2 UU RI No 21 tahun 2007 tentang penghapusan tindak pidana perdagangan orang (PTTPO).