Bocah Petarung ISIS Tiga Bulan Belajar di Pesantren Bogor

Muhammad Andika Putra , CNN Indonesia | Kamis, 14/09/2017 19:15 WIB
Bocah Petarung ISIS Tiga Bulan Belajar di Pesantren Bogor Pesantren Ibnu Mas'ud tempat bocah ISIS, Hatf Syaiful Rasul pernah menimba ilmu. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim Advokasi Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud mengatakan, Hatf Syaifu Rasul hanya tiga bulan belajar di pesantren di kawasan Kabupaten Bogor itu. Bocah pejuang ISIS yang tewas di Suriah itu juga tidak dididik menjadi radikal di sana.

"Selama tiga bulan memang bocah itu (Hatf) pernah dititipkan, kemudian berangkat (ke Suriah). Tapi dia gak digodok di sana," kata anggota tim advokasi Alghiffari Aqsa dari Lembaga Bantuan Hukum Jakarta di Jakarta Pusat, Kamis (14/9).

Pesantren tersebut dikelola oleh Yayasan Al Urwatul Usro. Nama pesantren ini pertama kali disebut oleh Reuters terkait tewasnya Hatf di Suriah.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Yayasan Al Urwatul Usro Agus Purwoko mengatakan, tak ada perbedaan aktivitas Hatf saat mondok di Ibnu Masud.

"Aktivitasnya seperti yang lain, baca alquran, membaca hadis. Tidak ada perlakuan khusus dibanding yang lain, semua sama," kata Agus.
Agus mengatakan, Pesantren Ibnu Mas'ud tidak pernah menanyakan asal-usul anak yang ingin belajar di sana, termasuk ketika Hatf mendaftar. Pengurus pesantren tidak menanyakan siapa orang tua Hatf ketika ia mendaftar. Bahkan pengurus tidak tahu kalau Hatf anak dari Syaiful Anam yang merupakan seorang teroris.
Bocah Petarung ISIS Tiga Bulan Belajar di Pesantren BogorHatf Syaiful Rasul, bocah asal Indonesia yang tewas bersama ISIS di Syuriah. (TELEGRAM/Handout via REUTERS)
Menurutnya pengurus pesantren memerlakukan Hatf sama seperti anak lain ketika mendaftar. Hatf diminta mengisi data dan ditanya mampu membayar berapa untuk biaya pendidikan di pesantren tersebut. Pesantren Ibnu Mas'ud tidak mematok biaya tertentu. Banyak santri yang tak bayar atau membayar sesuai kemampuan dibawah biaya yang ditetapkan

Pengurus pesantren, kata Agus, juga tidak pernah mempromosikan agar anak-anak masuk ke pesantren itu. Biasanya informasi mengenai pesantren itu tersebar dari mulut ke mulut.
Agus menjelaskan pesantren juga membolehkan santri yang ingin pulang bila dijemput orang tua dan tidak pernah melarang. Kadang santri pulang selama satu minggu, satu bulan atau kadang tidak kembali sama sekali.

Hatf merupakan salah satu santri yang tak kembali setelah izin pulang. Belakangan diketahui ia diajak ke Syuriah untuk berperang bersama ISIS sebelum tewas di sana.

"Waktu itu dia dijemput, saya tidak tahu siapa yang menjemput tapi ada kerabat yang menjemput," kata Agus.