KPAI: Perlu Peran Keluarga Guna Cegah Kasus PCC Terulang

Dias Saraswati , CNN Indonesia | Minggu, 17/09/2017 16:05 WIB
KPAI: Perlu Peran Keluarga Guna Cegah Kasus PCC Terulang Foto: ANTARA FOTO/Dewi Fajriani
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti memberikan imbauan kepada orang tua tentang pentingnya memberikan pendampingan kepada anak.

Hal tersebut disampaikan Retno terkait dengan kasus obat PCC atau Paracetamol Cafein Carisoprodol yang dikonsumsi oleh puluhan anak dan remaja di Kendari, Sulawesi Tenggara.

"Dibutuhkan pendampingan keluarga. Keluarga ini penting, anak bergaul dengan siapa. Sensitivitas sebagai orang tua harus tinggi terhadap perubahan anak," kata Retno di kawasan Sudirman, Minggu (17/9).

Tak hanya orang tua, Retno pun mengimbau agar para guru di sekolah juga peka terhadap perilaku anak di sekolah.


Retno mengungkapkan kasus serupa sebenarnya pernah terjadi di Bima, namun tidak terekspos seperti kasus di Kendari.

"Tidak menutup kemungkinan terjadi di semua daerah. Kami khawatir ada di semua daerah, harapannya ini bisa dicegah," ujarnya.

Untuk itu, Retno berharap pemerintah melalui kementerian terkait bisa lebih sering melakukan sosialisasi tentang penggunaan obat-obat semacam itu.

"Kami harap kementerian menggencarkan kampanye pintar menggunakan obat. Pemerintah harus lebih gencar sosialisasi. Mengonsumsi ini dampaknya mengerikan," tutur Retno.

Sebelumnya, masyarakat Kota Kendari, Sulawesi Tenggara dikejutkan puluhan anak hingga remaja yang masuk unit gawat darurat beberapa rumah sakit akibat gangguan mental usai mengonsumsi obat aneh. Satu diantaranya tewas karena mengonsumsi obat tersebut.

Dalam keterangan resmi Badan Narkotika Nasional (BNN) disebutkan, obat yang dikonsumsi itu bertuliskan PCC atau Paracetamol Cafein Carisoprodol.


"Hingga saat ini Balai Laboratorium Narkotika BNN, BNNP (BNN Provinsi) dan BNNK (BNN Kota) sedang berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pusat dan BPOM wilayah setempat untuk memeriksa kandungan obat bertuliskan PCC tersebut," demikian pernyataan BNN yang dirilis di Jakarta, Kamis (14/9).

Kepala BNN Kota Kendari Muniarti mengatakan sebagian besar dari korban itu adalah anak usia sekolah atau remaja mulai pelajar sekolah dasar hingga jenjang di atasnya.

"Bahkan satu orang korban yang masih kelas VI SD meninggal karena mengkonsumsi jenis obat tersebut, setelah sebelumnya mendapat perawatan di rumah sakit," kata Muniarti seperti dikutip dari Antara.