"Kami akan terus bekerja karena KPK digaji untuk itu (memberantas korupsi)," kata dia, kepada CNN Indonesia, Senin (18/9).
Hal itu ia katakan dalam menanggapi pandangan Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo terkait OTT yang rutin dilakukan KPK belakangan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KPK juga menurutnya akan terus mengombinasikan sistem pencegahan dan penindakan dalam strategi pemberantasan korupsi. Tujuannya, menimbulkan efek jera.
Sebelumnya Bambang, mengatakan, OTT merupakan cermin kegagalan sistem pencegahan korupsi yang harusnya diutamakan. Pemberantasan korupsi yang lebih memprioritaskan penindakan tidak akan efektif memberi efek jera.
"Cukuplah sudah KPK bertindak seperti polisi lalu lintas yang bersembunyi di semak-semak di tikungan jalan untuk mendapat tangkapan (OTT) pengendara yang melanggar rambu lalu lintas. KPK adalah burung Garuda yang mangsanya besar-besar. Bukan burung perkutut," kata Bamsoet dalam siaran persnya kemarin.
KPK akan terus menggelar operasi tangkap tangan meski dikritik DPR. (CNN Indonesia/Mesha Mediani) |
"Kalau hanya mengandalkan OTT saja, ya kasihan negara ini. Ibarat menembak nyamuk pakai meriam," ujarnya.
Rentetan OTT oleh KPK dalam bebera pekan terakhir. yang terbaru adalah penangkapan terhadap Walikot Batu, Jawa Timur, Eddy Rumpoko, Sabtu (16/9). Ia terjerat dalam kasus penerimaan suap proyek pengadaan meubelair.
Lihat juga:Genderang Korupsi Para Kepala Daerah |
OTT juga menimpa Wali Kota Tegal Siti Mashita Soeparno alias Bunda Siti, di rumah dinasnya, Tegal, Selasa (29/8). Ia dijerat dalam kasus dugaan penerimaan gratifikasi.
Pada 2 Agustus, KPK juga menangkap Bupati Pamekasan, Jawa Timur, Achmad Syafii, terkait kasus suap untuk menghentikan proses hukum di Kejaksaan Negeri Pamekasan.
KPK akan terus menggelar operasi tangkap tangan meski dikritik DPR. (CNN Indonesia/Mesha Mediani)