"Kalau ada (pengurus Bamus) yang memakai nama Bamus Betawi di situ, apalagi katanya menggunakan bendera Bamus, kami akan panggil. Kami akan buat pertangungjawabannya secara organisatoris," kata Oding kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/9).
Oding menjelaskan, terdapat sekitar 90 organisasi betawi yang bernaung di bawah Bamus Betawi, antara lain Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi) dan Forum Betawi Rempug (FBR). Oding tidak membenarkan apabila ada anggota organisasi di bawah naungannya yang mencatut nama Bamus Betawi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga mengaku belum menerima laporan terkait daftar nama yang diduga mengatasnamakan Bamus.
Bamus Betawi bahkan menurut dia, memperoleh anggaran operasional dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta, guna menyelenggaakan pelatihan serta pertunjukan seni Betawi seperti lenong atau wayang untuk warga.
"Apalagi, sudah ada Perda itu. Tidak boleh Bamus Betawi dibawa-bawa ke arah yang tidak perlu," ujarnya.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat tetap meminta agar Kepolisian melacak kemungkinan adanya pihak yang mengklaim mewakili Bamus Betawi pada kerusuhan di LBH Jakarta.
"Ini jelas akan mencederai nama baik Bamus karena orang Betawi itu toleran, tertib, cinta damai," ujarnya di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (18/9).
Sebelumnya, Savic Ali dari Komunitas Gusdurian yang hadir dalam acara seminar Asik Asik Aksi yang dikecam oleh massa anti-PKI menceritakan bahwa ada oknum Front Pembela Islam (FPI) dan Bamus Betawi yang terlibat dalam pengepungan dan pengrusakan kantor LBH Jakarta.
"Saya kira bukan hanya massa, oratornya saja ada yang menyatakan diri dari FPI. 'Saya dari FPI dan Bamus Betawi Japar' ada saya videonya itu," ujar Savic Ali di Kantor Komnas Perempuan, Senin (18/9).