Menurut Agus, pemerintahan Jokowi kurang tegas dalam bersikap soal kekerasan yang menimpa etnis Rohingya itu.
Kata Agus, ketika SBY berkuasa, Indonesia mampu memperjuangkan etnis Rohingya di Myanmar melalui diplomasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus berpendapat, sikap Presiden Jokowi yang kurang tegas memperhatikan etnis Rohingya menyebabkan munculnya berbagai desakan masyarakat agar pemerintah lebih tegas lagi dalam meperhatikan nasib etnis Rohingya.
"Di dalam negeri, isu tragedi kemanusiaan Rohingya sudah mendapatkan sorotan yang luas di tengah masyarakat kita khususnya dari kelompok-kelompok Muslim," kata Agus.
Tak hanya itu, Agus kembali menjelaskan, saat zaman SBY, pemerintah berhasil membujuk Myanmar untuk lebih terbuka. Setelah itu, Myanmar pun menggelar pemilu yang dinilai relatif bebas dan damai.
"Membuka jalan untuk menuju reformasi terbatas yang kemudian diikuti pemilu pertama yang berjalan relatif bebas dan damai," kata dia.
"Dalam pidato terakhirnya kemarin, Aung San Suu Kyi dikritik karena hanya mengakui terjadinya kekerasan di provinsi Rakhine, ingin menyelidiki eksodus ke luar negeri tapi sama sekali tidak menyebutkan peran militer Myanmar dalam tragedi kemanusiaan ini," tutur Agus.
Lihat juga:Banyak Pengungsi Rohingya Derita Pneumonia |
Operasi militer itu merupakan respon atas aksi Pasukan Penyelamat Rohingya Arakan atau ARSA yang menyerang 30 pos polisi dan pangkalan militer.
Serangan balasan militer Myanmar itu menewaskan seribuan jiwa warga etnis Rohingya.