Gugatan uji materi diajukan oleh Partai Idaman, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Effendi Ghazali, Partai Solidaritas Indonesia, Partai Persatuan Indonesia, dan Advokat Cinta Tanah Air (ACTA).
Salah satu poin yang dipermasalahkan pemohon uji materi tersebut adalah mengenai ambang batas dalam pemilihan presiden 2019, serta perlakuan berbeda terhadap parpol peserta pemilu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di hadapan majelis hakim MK, Tjahjo menjelaskan alasan pemerintah mendukung ambang batas sesuai UU nomor 7 tahun 2017. Kata dia, syarat ambang batas merupakan cerminan dukungan yang kuat dari DPR.
"Hal ini (ambang batas) juga sudah diwujudkan dalam dua kali pemilihan presiden langsung, dan pilkada 2015 dan 2017 yang terdiri dari 268 daerah dan 101 daerah."
Parpol yang ikut dalam pemilu sebelumnya, 2014, bisa mengikuti pemilu 2019 tanpa verifikasi. Sebaliknya, bagi parpol yang tak berkompetisi dalam pemilu sebelumnya harus diverifikasi terlebih dulu.
Menurut Tjahjo, perlakuan berbeda terhadap parpol peserta pemilu lama bukan merupakan hal yang tidak adil. Tidak diperlukannya verifikasi terhadap parpol yang sudah menjalani proses itu disebut mengefektifkan proses persiapan pemilu.
"Perbedaan tersebut bukan merupakan perlakuan yang tidak adil bagi peserta pemilu, namun lebih kepada efektifitas, efisiensi, dan peningkatan mutu penyelenggaraan pemilu," katanya.
Setelah mendengar penjelasan Tjahjo, Ketua MK Arief Hidayat yang memimpin jalannya persidangan berkata bahwa lembaganya menjadikan penyelesaian gugatan terhadap UU Pemilu sebagai prioritas. Posisi itu diambil karena proses pemilu akan mulai berjalan pada Oktober mendatang. (kid/ugo)