Sejumlah warga di lereng Gunung Agung itu enggan mengungsi dengan alasan hewan ternaknya berupa sapi dan babi tidak ada yang merawat.
Dengan alasan itu, mereka tetap bertahan meskipun sebagian besar warga lain telah berbondong-bondong mengungsi sejak status Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Bali, meningkat menjadi Level IV atau Awas sejak Jumat (22/9) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Jero Mangku Paseh mengatakan sebagian besar warganya sudah mengungsi ke tempat aman seperti posko pengungsian Desa Les dan tempat penampungan lainnya di Kabupaten Buleleng.
Adapun Komandan Kodim 1623 Karangasem Letkol Inf Fierman Sjafierial Agustus bersama tim gabungan lainnya telah meningkatkan penyisiran di daerah zona bahaya untuk mengevakuasi warga yang masih bertahan di beberapa desa sekitar Gunung Agung.
Fierman yang juga Komandan Satuan Tugas Siaga Darurat Gunung Agung itu mengklaim evakuasi hampir 100 persen dilakukan di kawasan rawan bencana (KRB) III yang merupakan zona merah dan KRB II yang merupakan zona merah muda.
Namun, tidak jarang beberapa warga, terutama yang memiliki ternak, kembali ke desa untuk memberi makan ternak yang tidak ikut diungsikan.
Di satu sisi Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri mengatakan bahwa pemkab setempat mengupayakan membeli ribuan hewan ternak milik para pengungsi untuk mencegah agar tidak dijual dengan harga murah. Apalagi masyarakat yang tinggal di daerah pengungsian panik dan khawatir terhadap ternak yang ditinggal.
Untuk itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan TNI dan Polri serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk melakukan evakuasi ternak sapi secara bertahap sejak Sabtu (23/9) lalu. (osc/gil)