Tak ada yang bisa memprediksi waktu dan kondisi magma mulai bergerak ke leher gunung.
Tak terkecuali bagi para penduduk Desa Tiyingtali, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem seperti Nyoman Tuktuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah terasa gempa, takut saya," kata Nyoman saat ditemui CNNIndonesia.com di Gedung Serbaguna Mansun, Rabu (27/9).
"Enggak mau meninggalkan desa, orang tua dari situ. Kalau keadaan saya enggak bisa tinggal di sana ya terpaksa saya pindah," tuturnya.
Beberapa tahun silam Desa Tulamben menjadi saksi keganasan letusan Gunung Agung yang memuntahkan lava yang membentuk sisa aliran lava Gunung Agung yang telah mengering. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Nyoman juga mengungkapkan, sebenarnya ia telah diminta oleh anaknya yang tinggal di Denpasar untuk pindah ke sana.
"Saya belum kepikiran. Kalau bisa aman di desa, saya tinggal di desa, anak-anak tinggal di Denpasar," ucap Nyoman.
Senada dengan Nyoman, Wayan Karyasa juga enggan pindah ke desa atau wilayah lain yang berada di zona aman, meski kini Gunung Agung sedang bersiap memuntahkan lahar.
Bagi dia, masa depannya tetap berada di Desa Datah, Kecamatan Abang, Karangasem yang juga masuk ke dalam zona bahaya letusan Gunung Agung.
Keengganan Wayan untuk pindah ke daerah lain juga dikarenakan dirinya sudah sejak kecil tinggal di desa itu.
"Sejak kecil sudah di situ, nenek moyang saya ada di situ," ujar Wayan.
Hal ini juga tak jauh beda dengan pemikirian I Luh Rening yang berasal dari Desa Datah, Kecamatan Abang, Karangasem.
"Enggak pengen pindah rumah saya," kata I Luh.
Beberapa tahun silam Desa Tulamben menjadi saksi keganasan letusan Gunung Agung yang memuntahkan lava yang membentuk sisa aliran lava Gunung Agung yang telah mengering. (CNN Indonesia/Andry Novelino)