Seruan dan Puisi untuk Setya Novanto dari Bundaran HI

Lalu Rahadian , CNN Indonesia | Minggu, 01/10/2017 10:13 WIB
Seruan dan Puisi untuk Setya Novanto dari Bundaran HI
Jakarta, CNN Indonesia -- "Tahan SN, tahan SN. Tahan si Setnov sekarang juga!"

Riuh rendah teriakan itu terdengar menyela lantunan lagu 'Maumere' yang diputar guna menghibur ribuan warga di hari bebas kendaraan bermotor atau Car Free Day, kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (1/10).

Puluhan orang berpakaian serba hitam dan membawa beragam pamflet menjadi sumber seruan tersebut. Mereka menamakan diri sebagai Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi Indonesia.

Mereka menggelar kegiatan bertajuk 'Indonesia Berkabung' menanggapi batalnya status tersangka Ketua DPR RI Setya Novanto dalam kasus korupsi pengadaan KTP Elektronik.

Status tersangka Novanto telah diputuskan batal lewat vonis praperadilan Hakim Tunggal Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Cepi Iskandar, Jumat (29/9).

"Hari ini kita sepakat untuk terus melakukan perlawanan, mendukung KPK keluarkan sprindik baru terhadap Setnov. Kita tak pernah bisa diam sampai Setnov ditahan dan menjadi terdakwa," kata anggota KOSMIK UI yang tergabung dalam koalisi, Gifo Aulia.

Kemampuan Setya lolos dari berbagai perkara yang membelitnya juga disoroti koalisi tersebut. Menurut perhitungan mereka, Ketua Umum Partai Golkar itu sudah 6 kali lolos dari kasus hukum yang melibatkannya.

"Putusan hakim Cepi bukan putusan yang tepat, tapi justru menciderai hukum di Indonesia. Publik marah dengan keputusan tersebut," katanya.

Selain orasi, sebuah puisi karya Sosiolog Universitas Indonesia, Imam Prasodjo, juga dibacakan anggota koalisi. Puisi karya Imam yang berjudul 'Kau Sungguh Terlalu' itu dibacakan anggota Gerakan Anti Korupsi (GAK) Enomy Prasetyo. Karya tersebut menyindir keputusan hakim yang dianggap janggal dalam praperadilan Setya.

Berikut isi puisi karya Imam yang dibacakan dalam aksi tersebut:

Dada ini terasa begitu mendidih
Melihat pesta pora penghianatan
Peragaan kepalsuan digelar kasat mata
Dipertontonkan begitu terbuka
Dilihat jutaan pasang mata

Kau sungguh terlalu
Jabatan agung kau permainkan
Rasa keadilan kau jauhkan
Keputusan ambigu kau bacakan
Terdengar tersendat terbata
Bodoh, dungu terlihat
Inikah pertanda kepalsuan?

Penghianatan apa lagi kau pertunjukkan
Sungguh tak tahu malu
Berani kau pegang palu
Kau ketukkan menghianati bangsamu
Kau ketukkan menghinakan dirimu
Kau ketukkan mempermalukan anak cucumu

Lihatlah dirimu
Hidupmu mendekati uzur
Tubuhmu mendekati liang kubur
Tapi adakah hati luluh mengendur
Peduli pada negeri yang hancur
Merasakan nasib mereka yang lebur

Lihatlah dirimu
Apa makna jubah kebesaranmu
Sungguh kau nistakan kehormatan
Kau jadikan penutup kepalsuan
Kau jadikan pembungkus kebusukan dan kehinaan

Semoga Tuhan yang kuasa
Memberi ampun atas penghianatanmu
Kepada bangsamu.