Hal itu juga menjadi alasan pengadaan senjata untuk korps Brimob. Pasukan elite polisi itu mengimpor senjata jenis pelontar granat sebanyak 280 pucuk dan amunisinya 5.932 butir.
"Senjata itu kan digunakan untuk dalmas, untuk Poso, Papua, tempat operasi-operasi yang di hutan-hutan," kata Kadiv Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto di kompleks Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, Jakarta Timur, Minggu (1/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Setyo menyatakan terkait polemik senjata ini langsung diambil alih Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan.
Pada kesempatan berbeda, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto menyayangkan ramainya persoalan pembelian senjata yang dilakukan oleh Badan Intelijen Negara (BIN) dan Polri.
"Sebenarnya banyak hal yang tidak perlu jadi komoditas publik. Ada masalah-masalah yang diselesaikan dengan cara musyawarah mufakat. Tugas saya sebagai Menko Polhukam atas perintah presiden mengkordinasikan lembaga di bawah saya untuk menyelesaikan," tuturnya.
Lihat juga:Polri Akui Impor Ratusan Senjata |
Mantan Panglima ABRI (sekarang TNI) itu menyatakan bakal duduk bersama dengan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan dan pihak PT Pindad untuk menyelesaikan polemik pengadaan senjata ini.
"Karena itu setop dulu. Kami koordinasi internal dan sampaikan kepada publik. Bahwa tidak ada satu hal yang mengganggu keamanan. Tidak ada. Yang saya jamin adalah masalah internal ini kita selesiakan dan tidak menganggu keamanan nasional," tuturnya.