Wiranto berharap sejarah tersebut menjadi referensi bangsa agar tak mengulang kejadian yang sama di masa yang akan datang. "Kita tidak memutar jarum jam, sejarah adalah sejarah. Sejarah adalah referensi kita supaya tidak mengulang lagi," kata dia di kompleks Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, Jakarta Timur, Minggu (1/10).
Mantan Panglima ABRI itu menyebut penyelesaian tragedi 1965 secara yuridis tak mungkin dilakukan. Terlebih Presiden Joko Widodo, kata Wiranto, berpesan agar sejarah kelam bangsa Indonesia itu tak terulang dan dijadikan landasan untuk menatap masa depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wiranto mengatakan penyelesaian lewat jalur non-yudisial tengah berlangsung. Salah satu contohnya, kata dia, adalah sudah tidak ada lagi pelarangan keturunan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi pegawai negeri sipil.
Isu PKI Jangan Jadi Komoditas Politik
Wiranto meminta semua pihak tak memanfaatkan tragedi 1965 atau peristiwa Gerakan 30 September sebagai komoditas politik jangka pendek, khususnya menjelang Pemilihan Presiden 2019 mendatang.
Dia pun heran dengan pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, memanfaatkan peristiwa G30S yang tak terlepas dari PKI untuk 'digoreng' dengan tujuan tertentu. “Karena tidak fair akan menimbulkan kegaduhan, menimbulkan suasana saling menyalahkan,” ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Jokowi mengatakan, lewat peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh hari ini, sejarah kelam tentang kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) tak terulang kembali. “Pertama, jangan sampai sejarah kelam kekejaman PKI terulang lagi,” kata Jokowi.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu meminta agar masyarakat memegang teguh Pancasila dan menjaga persatuan bangsa. Jokowi pun menegaskan agar semua pihak tak memberikan ruang kepada ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, termasuk PKI.
Lihat juga:Peringatan Hari Kesaktian Pancasila |