Hal itu akan dijelaskan oleh Wiranto pada waktu yang menurutnya tepat. Namun, untuk saat ini, dia mengimbau baik Polri maupun TNI untuk tidak membicarakan masalah ini secara langsung di hadapan publik.
"Nanti dibicarakan. Impor ada, bagaimana dananya, bagaimana kepentingannya, Undang-undangnya. Enggak perlu kita bicarakan di publik. Setop dulu," kata Wiranto di kompleks Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, Jakarta Timur, kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kami ngomong nanti digoreng lagi. Karena itu setop dulu. Kami koordinasi internal, dan nanti sampaikan kepada publik," ujarnya.
Kargo berisi senjata itu diangkut oleh pesawat maskapai Ukraine Air Alliance dengan nomor penerbangan UKL 4024, dan tiba pada Jumat (29/9) pukul 23.30 WIB.
Polri telah mengakui impor ratusan senjata untuk Korps Brimob Polri tersebut. Pengadaannya sudah melalui proses anggaran yang sah. Namun, perijinannya masih diurus kepada TNI.
"Barang yang ada dalam Bandara Soetta yang dinyatakan dimaksud rekan-rekan senjata adalah betul milik Polri dan barang yang sah," ungkap Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto, di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (30/9).
"Semua sudah sesuai prosedur, mulai dari perencanaan, proses lelang dan kemudian proses berikutnya sampai kemudian di-review pengadaan dan pembeliannya oleh pihak ke-4 dan proses masuk ke Indonesia," jelasnya.
Impor senjata oleh Polri menjadi polemik setelah beberapa hari sebelumnya Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengungkapkan bahwa ada institusi non militer yang berencana mendatangkan atau membeli 5.000 pucuk senjata.
Menurut Gatot, nama Presiden Jokowi ikut dicatut untuk memuluskan impor senjata itu. Namun dia yakin bukan presiden yang memesan itu. Gatot mengklaim informasi itu didapat dari pihak yang dapat dipercaya (A1).
"Tidak akan saya sampaikan di sini kalau datanya tak akurat, data intelijen kami akurat," kata Gatot.
Wiranto pun langsung meluruskan pernyataan Gatot soal pembelian 5.000 senjata. Dia menjelaskan, informasi yang benar yaitu pengadaan 500 pucuk senjata laras pendek buatan Pindad oleh Badan Intelijen Negara (BIN) untuk keperluan pendidikan intelijen.