Internal Golkar terpecah melihat keputusan itu. Menurut Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono Tim Kajian Elektabilitas bukanlah representasi DPP Partai Golkar.
Di sisi lain, berdasarkan data Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada 12 September 2017, persentase elektabilitas Golkar sebesar 10,9 persen, atau turun drastis dari hasil Pemilu 2014 ketika Golkar meraih 14,1 persen suara.
Lihat juga:Jusuf Kalla Tegaskan Golkar Tidak Pecah |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Golkar diyakininya tidak akan meraih suara besar di Pemilu tingkat manapun jika Setya Novanto tetap menjabat Ketua Umum.
“Jadi, mau tidak mau kalau Golkar ingin mengembalikan elektabilitasnya ya harus ada sosok lain yang menggantikan Setnov,” ujar Rafif kepada CNNIndonesia.com, Selasa (3/10).
Risiko lain jika mempertahankan Setnov sebagai Ketum adalah timbulnya faksi-faksi di internal Golkar. Keberadaan faksi itu bisa menghambat konsolidasi politik, terutama untuk menghadapi Pilkada 2018 dan Pemilu serentak 2019.
Tiru Megawati
Rafif juga menyarankan Golkar, terutama Setya Novanto, mencontoh sikap Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat memutuskan tidak mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pemilu 2014.
Sikap legowo Megawati memberi jalan kepada Joko Widodo dinilai Rafif sebagai salah satu faktor tingginya elektabilitas PDI Perjuangan.
Pengalaman PDI Perjuangan itu bisa saja dialami Golkar jika Setya Novanto mencontoh langkah politik Megawati pada Pilpres 2014 lalu.
Ketua PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri disebut memilih keputusan tepat saat tidak maju di Pilpres 2014. (CNN Indonesia/Christie Stefanie) |
Untuk menghapus citra itu, menurut Rafif, partai harus mencari sosok yang memiliki pengalaman dan kemampuan menghapus faksi, juga kemampuan komunikasi politik dan bebas dari tindak pidana, khususnya korupsi.
Bekas Ketua DPP Yorrys Raweyai menyebut, sosok yang tepat menggantikan Novanto adalah Ketua Koordinator DPP Partai Golkar Bidang Ekonomi Airlangga Hartarto, yang kini menjabat sebagai Menteri Perindustrian.
Ia mengklaim sudah menemui Airlangga untuk membicarakan kesiapannya sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum Partai Golkar, namun Airlangga menepis kabar tersebut. Ia mengaku tak berencana untuk menggantikan Novanto.
Ketua PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri disebut memilih keputusan tepat saat tidak maju di Pilpres 2014. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)