Alih-alih menyinggung polemik impor senjata, pidato Jokowi lebih menyoroti loyalitas TNI dan ancaman terhadap ideologi negara, Pancasila.
Dalam pidato berdurasi kurang dari 10 menit itu, Jokowi mengajak segenap prajurit TNI untuk mengingat kembali pesan Panglima Jenderal Besar Soedirman mengenai hubungan TNI dan politik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jokowi mengatakan, rongrongan terhadap keamanan negara tidak hanya dari dalam, tapi juga dari luar negeri.
Polemik impor senjata dipicu oleh pernyataan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam acara Silaturahmi Panglima TNI dengan Purnawirawan TNI, di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI, Cilangkap, Jumat (24/9) lalu.
Dalam sambutannya, Gatot menyampaikan ada institusi bukan militer yang berencana mendatangkan 5.000 pucuk senjata. Nama Presiden Jokowi dicatut agar dapat mengimpor senjata tersebut."Mereka memakai nama Presiden, seolah-olah itu yang berbuat Presiden, padahal saya yakin itu bukan Presiden, informasi yang saya dapat ini dari pihak A1," kata Gatot.
"Bahkan polisi pun tidak boleh memiliki senjata yang bisa menembak tank, dan bisa menembak pesawat, dan bisa menembak kapal, saya serbu kalau ada," ujarnya.
Pernyataan Gatot itu langsung diklarifikasi oleh Menko Polhukam Wiranto yang menyebut bahwa tidak ada institusi non militer memesan 5.000 senjata.
"Saya sudah panggil Panglima TNI dan Polri. Ini hanya masalah komunikasi yang tidak tuntas terkait pembelian senjata itu. Setelah saya tanya, saya cek, ini adalah pembelian 500 pucuk senjata dari Pindad untuk sekolah intelijen," kata Wiranto di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Minggu (24/9).
Sejumlah pengamat menilai pernyataan Gatot tersebut, yang juga menyinggung Polri, dapat merusak hubungan kedua institusi.
Ada juga yang menilai ucapan Gatot itu sebagai bentuk manuver politik menjelang masa akhir jabatannya.
[Gambas:Video CNN]