"Kebutuhan akan lahan terus meningkat yang imbasnya beberapa tahun terakhir TNKS tertekan," kata Kepala Tata Usaha Balai Besar TNKS Agusman di Sungai Penuh, Jambi, Kamis (5/10) seperti dikutip dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, sambungnya, TNKS sebagai kawasan konservasi memiliki fungsi penting dalam ekosistem.
Dan, tantangan lain dari TNKS adalah maraknya perburuan atas hewan liar di sana. Agusman mengatakan hingga saat ini petugas TNKS masih sering menemukan jerat dalam kegiatan operasi sapu jerat.
Agusman mengatakan pihaknya membutuhkan mitra untuk menyosialisasikan kepada masyarakat mengenai peran TNKS untuk kehidupan. Dia mengakui, saat ini TNKS keterbatasan waktu, personel dan orang yang bisa menyampaikan penyelamatan kawasan taman nasional yang puncak tertingginya mencapai 3805 mdpl tersebut.
Hal itu pun diamini pakar lingkungan dari Universitas Andalas Wilson Nofarino. Di tempat yang sama Wilson mengatakan peran semua sektor dibutuhkan untuk menjaga hutan dan ekosistem yang ada didalamnya.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan polisi hutan yang jumlahnya tidak sebanding dengan luas hutan yang ada sehingga butuh bantuan dari semua pihak," ujar Wilson.
Harimau Sumatra yang berada di habitatnya di Sumatra Barat. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean) |
"Harimau Sumatra menjadi kunci pendukung ekosistem sehingga keberlangsungan populasinya harus dijaga. Ini menjadi tanggung jawab bersama," kata Wilson dalam pelatihan komunikasi dan advokasi generasi pelindung harimau Sumatra di Sungai Penuh.
Selain perburuan liar, Wilson mengatakan penyebab menipisnya populasi harimau Sumatra adalah habitat yang hilang akibat perambahan hutan secara liar.
Harimau Sumatra yang berada di habitatnya di Sumatra Barat. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)