Senjata yang Tertahan di Bandara Dibawa ke BNN Bengkulu

Martahan Sohuturon , CNN Indonesia | Jumat, 06/10/2017 10:22 WIB
Senjata yang Tertahan di Bandara Dibawa ke BNN Bengkulu Ilustrasi senjata. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 10 paket berisi senjata dan amunisi milik Badan Narkotika Nasional (BNN) yang sempat tertahan di Bandara Fatmawati, Bengkulu telah dibawa ke BNN Provinsi (BNNP) Bengkulu, sejak Kamis (5/10) pagi.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BNN Komisaris Besar Sulistiandriatmoko mengatakan, serah terima senjata dan amunisi itu dilakukan setelah pihaknya menunjukkan dokumen ke Markas Komando Resor Militer 041 Garuda Mas Bengkulu.

"Sudah selesai (serah terima) dari kemarin pagi, sudah diserahkan ke BNN Provinsi, dokumen resmi senjata tersebut sudah dicocokan dengan fisik senjata semuanya sudah lengkap,” kata Sulistiandriatmoko kepada CNNIndonesia.com, Jumat (6/10).
Paket senjata yang dikirimkan melalui Cargo Garuda Indonesia tersebut berisi senjata jenis Saiga-12CEXP-01 kaliber 18,3 MM jumlah 5 pucuk buatan Rusia. Kemudian pistol jenis CZ P-07 (Softgun) kaliber 22 mm sebanyak 21 buah. Sarung pistol jumlah 42 buah, dan rompi anti peluru 21 buah.

Dia menjelaskan, insiden tertahannya senjata dan amunisi milik BNN itu di Bandara Fatmawati pada Rabu (4/10) terjadi lantaran adanya kesalahpahaman antara pihak kargo Bandara Fatmawati dengan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Menurutnya, insiden tersebut tidak perlu terjadi jika pihak kargo kedua bandara saling berkomunikasi.

"Seharusnya itu tidak terjadi, (pihak kargo) Bengkulu seharusnya berinisiatif cek terhadap item yang diangkut kargo itu. Apa sulitnya berkoordinasi dengan satu institusi di kargo seperti itu?” ujarnya.

Sulistiandriatmoko mengakui bahwa senjata dan amunisi tersebut merupakan milik BNN Pusat yang akan didistribusikan ke BNN Provinsi Bengkulu.

"Senjata itu benar, senjata organik BNN. Dan itu didistribusikan ke BNNP Bengkulu. Sesuai arahan Kepala BNN, pegawai BNN akan dipersenjatai," kata Sulistiandriatmoko.