PPP juga mempersilakan Gatot untuk bergabung ke partai berlambang kakbah itu saat pensiun nanti. Sekretaris Jenderal PPP Asrul Sani mengatakan, sebagai partai terbuka, PPP tengah mengejar para purnawirawan jenderal baik TNI dan Polri.
"Karena apa? Karena kami juga butuh, misalnya untuk DPR yang akan datang misalnya berasal dari TNI, agar kalau bicara isu-isu pertahanan itu lebih mumpuni. Polri juga begitu," kata Arsul di kompleks parlemen, Senin (9/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada saat Mukernas PPP bulan Juli di Ancol, ketika Gatot presentasi, banyak usulan atau aspirasi sesaat yang menginginkan agar Pak Gatot menjadi cawapres berdampingan dengan Pak Jokowi," kata Arsul.
"Kalau Pak Jokowi nasionalis religius, nah itu dianggap klop," ujarnya.
Hingga kini, menurut Arsul, belum ada usulan selain nama Gatot yang mengemuka di PPP.
Nama Gatot disebut sebagai calon wakil presiden paling potensial di Pemilihan Presiden 2019.
Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) menyebutkan, berdasarkan hasil surveinya, Gatot dipandang sebagai salah satu calon Wakil Presiden alternatif bagi Jokowi di Pemilu 2019.
Elektabilitas Gatot berada di posisi ketiga sebagai calon wapres potensial di bawah Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto.
Survei nasional itu digelar di delapan kota, yakni Medan, Padang, Palembang, Jakarta (kecuali Kep. Seribu), Bandung, Semarang, Surabaya dan Makassar. Pengambilan data dilakukan wawancara tatap muka dan melibatkan 800 responden, sejak 8 hingga 27 September 2017. Margin of error (MoE)-nya mencapai /-3,5%.
Berdasarkan hasil survei KedaiKopi, elektabilitas calon wakil presiden potensial yakni Jusuf Kalla (15,1 persen), disusul oleh Prabowo Subianto (13,4 persen), Gatot Nurmantyo (12 persen). Adapula nama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (10,1 persen), putra SBY Agus Harimurti Yudhoyono (7,5 persen), Jenderal Tito Karnavian (6 persen), Menteri Keuangan Sri Mulyani (4,8 persen), dan Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan (0,8 persen).