Ia mendesak jajaran pimpinan kepolisian wilayah itu mengambil langkah antisipasi potensi kerawanan jelang Pilkada. Tito mengancam akan mengevaluasi, bahkan mencopot, kepala satuan kepolisian wilayah seperti Kapolda dan Kapolres yang tidak melaksanakan arahan yang telah diberikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Joko Widodo. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean) |
Dari wilayah tersebut, Tito mengatakan sejumlah wilayah yang diduga rawan antara lain Jawa Barat, Papua, dan Kalimantan Barat. Jenderal bintang empat itu menuturkan, salah satu potensi kerawanan di tiga wilayah tersebut ialah terkait isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
"Masalah pilkada, situasinya biasa, natural. Tensi dari dingin biasanya menghangat, tapi upayakan jangan sampai memanas, itu bahasanya beliau (Jokowi). Artinya, biasa hangat dalam rangka kompetisi (atau) kontestasi politik, tapi jangan sampai terjadi gangguan keamanan masyarakat, itu keinginan beliau (Jokowi)," ujar Tito.
Lantas, salah satu langkah mengantisipasi gangguan keamanan di masing-masing wilayah jelang Pilkada 2018, Tito memerintahkan anak buahnya melakukan pendekatan dengan seluruh pemangku kepentingan. Selain itu, Tito menyampaikan, seluruh kepala satuan kepolisian wilayah juga dapat meningkatkan kualitas hubungan dengan TNI di wilayah masing-masing.
"Presiden tadi kasih garis bawah: Hubungan Polri dan TNI mutlak harus baik di semua jajaran, karena Polri dan TNI (adalah) dua pilar utama negara ini. Kalau tegak dan solid maka NKRI akan kuat," ujar Tito.
Polri menyelenggarakan Apel Kasatwil 2017 di Akademi Kepolisian, Semarang pada 9 hingga 11 Oktober. Tito mengatakan sengaja menggelar apel di akademi tersebut demi menjadi ajang nostalgia yang menyegarkan kembali ingatan para kasatwil saat dididik jadi anggota Korps Bhayangkara.
Apel Kasatwil 2017 dihadiri sebanyak 546 kasatwil yang terdiri dari 33 kasatwil tingkat daerah (kapolda), 33 kepala biro operasional, dan 461 kasatwil tingkat resor (kapolres).
Joko Widodo. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)