Wiranto Khawatir Lapas jadi 'Sekolah' Koruptor dan Teroris

Ramadhan Rizki Saputra , CNN Indonesia | Jumat, 13/10/2017 21:01 WIB
Wiranto Khawatir Lapas jadi 'Sekolah' Koruptor dan Teroris Ilustrasi Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kondisi sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang tak lagi memadai untuk menampung tahanan menjadi masalah serius penegakan hukum di Indonesia.

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto khawatir kondisi itu akan membuat para penghuni bertukar pengetahuan modus operandi kejahatan.

Akibatnya, Lapas yang seharusnya menjadi tempat rehabilitasi justru berpotensi memfasilitasi para penghuninya semakin pintar berbuat kejahatan.

“Para tindak kriminalitas terorisme, narkotika, maling ayam, koruptor jangan digabung, tentu nanti akan ada saling cross kemampuan, saling tukar kemampuan. Nanti malah kita, pemerintah seperti membayari mereka sekolah (kejahatan) di Lapas," kata Wiranto di kantornya, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat, (13/10).

"Ada yang sekolah jadi koruptor, jadi sekolah maling, dan sekolah teroris”," ujar dia.


Salah satu Lapas yang mendapat sorotan dari Wiranto adalah Lapas Cipinang, Jakarta. Di Lapas tersebut, Wiranto mengatakan para tahanan bisa mendapatkan telepon seluler dengan mudah.

Kondisi itu, menurut dia, membuat para tahanan bisa melakukan kejahatan, termasuk mengendalikan peredaran narkoba dari dalam Lapas. 

“Saya kemarin nengok ke (Lapas) Cipinang, pantes di sana jadi pabrik narkoba, orang tahanan punya HP semua, jadi HP tinggal lempar saja dari temboknya sudah dapat,” ujarnya.


Lapas Cipinang memang pernah mendapat perhatian luas pada 2013 ketika kepolisian berhasil mengungkap praktik produksi sabu di dalam Lapas tersebut. 

Tak hanya itu, gembong narkoba Freddy Budiman yang telah dieksekusi mati juga sempat mendekam di Lapas Cipinang.

Berkaca dari kondisi Lapas Cipinang saat ini, Wiranto ingin membangun banyak Lapas yang masing-masing dikhususkan untuk dihuni pelaku tindak kejahatan tertentu.

Cara itu agar para pelaku beragam tindak kejahatan tidak bercampur dalam satu Lapas sehingga bisa mencegah transfer ilmu kejahatan antar sesama penghuni Lapas.


Dia mengatakan, Lapas harus dikembalikan ke fungsinya sebagai sarana pembelajaran sebelum para tahanan kembali ke tengah masyarakat

“Sekarang sedang digarap, itu bagus daripada kita mengeluh over kapasitas lapas yang dampaknya sangat luar biasa, seperti ada pemberontakan lapas, ada perilaku yang akhirnya merugikan kepentingan nasional,” kata dia. (wis)