Romo Magnis Sebut Anies Selip Lidah di Pidato 'Pribumi'

Dias Saraswati , CNN Indonesia | Kamis, 19/10/2017 09:17 WIB
Romo Magnis Sebut Anies Selip Lidah di Pidato 'Pribumi' Pidato Anies soal 'pribumi' dinilai hanya selip lidah dan diharapkan tak terulang lagi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Budayawan Franz Magnis Suseno menyebut gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan keseleo lidah (slip tounge) atau salah mengucapkan saat menyebut ‘pribumi’ dalam pidato perdananya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Romo Magnis juga berharap kejadian ini tidak dibesar-besarkan karena baru sekali terjadi.

"Saya kira itu slip tounge," kata Romo Magnis di Jakarta kemarin.

Ia berharap selip lidah ini tak terjadi lagi apalagi menyinggung soal pribumi. Jika terus terulang, maka menurutnya ini bisa jadi pertanyaan besar.
"Saya tidak anggap ini serius, tidak apa-apa, tapi jangan sampai terulang kembali," ujarnya.

Anies sendiri telah megklarifikasi bahwa penyebutan kata 'pribumi' dalam pidatonya terkait dengan era penjajahan, karena ia menganggap Jakarta sebagai kota yang paling merasakan penjajahan di era kolonial.
Kata 'pribumi' yang dinyatakan Anies Baswedan dalam pidato perdananya sebagai Gubernur DKI Jakarta dinilai hanya selip lidah. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Romo Magnis berpendapat penjelasan Anies yang menyatakan kata 'pribumi' tersebut terkait dengan era kolonial masih tidak jelas.

"Tidak jelas maksudnya dia sampai tahun 1945 atau sampai tahun 2017, kalau kolonial buat apa diangkat sekarang?" ujarnya.

Dalam pidato pertama kali di balai Kota DKI Jakarta, Anies berjanji akan menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Jakarta. Ia menyebut bahwa pribumi pernah ditindah dan dikalahkan.
"Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan, kini telah merdeka, saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri," kata Anies Baswedan.

Jakarta, menurut Anies, bukan hanya sekadar kota, tapi juga Ibu Kota. "Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat. Penjajahan di depan mata itu di Jakarta, selama ratusan tahun, di tempat lain penjajahan terasa jauh, tapi di Jakarta, bagi orang Jakarta, kolonialisme di depan mata dirasakan sehari-hari," katanya.