Acara Anies-Sandi di Puncak Tidak Berkoordinasi dengan Polri

Mesha Mediani , CNN Indonesia | Sabtu, 21/10/2017 19:42 WIB
Acara Anies-Sandi di Puncak Tidak Berkoordinasi dengan Polri Anies Baswedan dan Sandiaga Uno membuka acara Tea Walk bersama 8.000 PNS DKI, di Bogor, Sabtu (21/10). (CNN Indonesia/Mesha Mediani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kemacetan sepanjang 10 kilometer di kawasan Puncak, Bogor, terjadi akibat kegiatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno, Sabtu (21/10) siang. Panitia acara disebut tidak berkoordinasi dengan Kepolisian setempat sebelumnya.

Kapolres Bogor Kabupaten AKBP AM Dicky menyebutkan, panitia Korps Pegawai RI (Korpri) DKI Jakarta tidak berkomunikasi terlebih dahulu dengan Polres Bogor perihal gelaran acara di kawasan Agrowisata Gunung Mas, Bogor, pada Sabtu (21/10) pagi, itu.

Padahal, lanjutnya, penyelenggara keramaian penting untuk memberitahukan acara yang mereka gelar supaya aparat dapat memperkirakan keadaan. Sehingga, kepolisian bisa membuat rencana pengamanan yang meliputi pengerahan jumlah personel, peralatan, dan cara bertindaknya.

"Biasanya kalau ada kegiatan masyarakat, minimal ada pemberitahuan. Kami cek di Sat Intelkam (Satuan Intelijen dan Keamanan), belum ada pemberitahuan kegiatan tersebut," ungkap Dicky, melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (21/10).


Acara yang bertajuk Tea Walk itu sendiri diramaikan sekitar 8 ribu PNS di lingkungan Pemprov DKI dan BUMD DKI.

Ia menyebut, jumlah kendaraan yang berlebih membuat antrean sepanjang 10 kilometer. Kondisi itu diperburuk dengan banyaknya jumlah kendaraan yang parkir di bahu jalan di sekitar tanjakan di daerah kebun teh. Selama dua hingga tiga jam kendaraan sempat tak bergerak pada siang tadi.

"Tadi memang agak overloaded keluar-masuk daerah Gunung Mas karena para pengunjung yang berjumlah ribuan banyak menggunakan kendaraan pribadi," jelas Dicky.

Meski demikian, Dicky menyebut Polres Bogor mampu mengatasi kemacetan yang kadung terjadi ini. Hal itu dilakukan dengan rekayasa lalu lintas buka-tutup dan pengerahan personil Sabhara cadangan. Selain itu, pihaknya melakukan sosialisasi agar warga menghindari kawasan Puncak dan tak semakin membuat macet.

"One way ke atas juga tidak bisa dilaksanakan segera karena masih ada penumpukan kendaraan dari arah atas atau Cianjur yang tertahan di pintu masuk Gunung Mas. Jadi kami blok, sehingga terkuras yang ada di atas baru kita bisa laksanakan one way ke atas," kata Dicky.


Pada akhir pekan, jelasnya, kepolisian biasanya menerapkan sistem satu jalur menuju Puncak pada pukul 07.30-10.30 WIB. Setelah itu, jalur dua arah diterapkan. Kemudian, pihaknya menerapkan sistem satu jalur lagi ke bawah (dari arah Puncak) mulai pukul 13.30 WIB. Akibat gelaran ini, pihaknya menerapkan satu jalur ke bawah setengah jam lebih cepat.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Korpri DKI Jakarta Didi Hartaya mengklaim Korpri DKI sesungguhnya telah melakukan koordinasi dengan kepolisian di Bogor melalui Dinas Perhubungan Pemprov DKI. Dari koordinasi itu pun, katanya, sudah diberitahukan ada rencana pelaksanaan kegiatan di Gunung Mas termasuk jumlah penyelenggara dan pesertanya.

"Namun jumlah kendaraan di luar prediksi dan kurangnya antisipasi, ditambah adanya beberapa titik perbaikan jalan sehingga terjadi kepadatan yang luar biasa," aku Didih.

Meski begitu, ia menyatakan pihak panitia dari Provinsi DKI Jakarta tetap meminta maaf kepada pihak-pihak yang terdampak gelaran Tea Walk tersebut.

"Saya atas nama panitia Soliditas & Solidaritas Korpri Provinsi DKI Jakarta mohon maaf atas ketidaknyamanan perjalanan para pengguna jalan jalur Puncak dan sebaliknya atas kepadatan jalur tersebut," tandasnya.