Stafsus Presiden Sebut Penembakan di Papua Terkait Freeport

Christie Stefanie , CNN Indonesia | Selasa, 31/10/2017 20:37 WIB
Stafsus Presiden Sebut Penembakan di Papua Terkait Freeport Staf Khusus Presiden Lenis Kogoya melaporkan situasi keamanan di Papua kepada Presiden Joko Widodo. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Staf Khusus (Stafsus) Presiden Kelompok Kerja Papua Lenis Kogoya melaporkan situasi keamanan di Papua kepada presiden Joko Widodo. Dalam pertemuan dengan Jokowi, Lenis melaporkan penembakan di Papua mulai dari Pos Brimob hingga Mapolsek Tembagapura dalam sepekan terakhir.

Kata Lenis, peristiwa penembakan itu berkaitan dengan Freeport.

"Kenapa masyarakat marah? karena ada hal belum beres terutama Freeport. Kalau di wilayah Papua itu wilayah pengawasan kepala suku," kata Lenis usai bertemu Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (31/10).

Lenis mengatakan, Freeport saat ini hanya memberikan satu persen hasil tambang kepada masyarakat setempat yang terbagi menjadi tujuh suku.

Masyarakat di sana disebut benar-benar berharap divestasi 51 persen terealisasi segera.

"Sekarang masyarakat tidak diperhatikan. Terus masyarakat diapakan? Hanya menunggu masyarakat saja," tuturnya.


Jokowi, kata Lenis, menginstruksikannya untuk turun tangan menyelesaikan permasalahan keamanan di sana. Lenis berpendapat, seluruh aparat penegak hukum harus membantu masyarakat adat menjaga keamanan Papua.

"Sekarang semua minta keadilan. Kalau saya turun aman berarti pihak keamanan pun, kebijakan hukum harus sama-sama tegak. Ini kita harus sama-sama tegas," tuturnya.

Lenis juga mengkritik instruksi tembak langsung pelaku kejahatan yang dikeluarkan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar.

Lenis menyadari instruksi tembak di tempat, dikeluarkan untuk menjaga keamanan. Tapi, dia mengingatkan permasalahan masyarakat Papua tak bisa diselesaikan dengan kekerasan.

"Masyarakat Papua bukan teroris. Kekerasan itu kami minta, cara adat supaya difasilitasi," kata Lenis.

Pemerkosaan

Kekerasan kembali terjadi di Papua. Seorang wanita berinisial E alias Mama L menjadi korban pemerkosaan tiga orang anggota kelompok kriminal bersenjata di Kampung Longsoran Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, Senin (30/10) sekitar pukul 19.15 WIT.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua Komisaris Besar Ahmad Musthofa Kamal mengatakan, peristiwa terjadi saat E tengah menjaga kios tempat berjualan.

"Iya (pemerkosaan), oleh anggota kelompok kriminal bersenjata," kata Kamal dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (31/10).

Dia menjelaskan, E yang tengah menjaga kios tiba-tiba didatangi tiga orang anggota kelompok kriminal bersenjata dan langsung dibawa ke tempat gelap sekitar pukul 19.15 WIT.

Kamal menuturkan, ketiga anggota kelompok kriminal bersenjata itu pun langsung memperkosa E secara bergantian sambil mengancam akan membunuh korban bila berteriak.
Ketiga anggota kelompok kriminal bersenjata pun langsung meninggalkan E setelah melalukan pemerkosaan itu.

"Pelaku melakukan perbuatan keji dengan mengeluarkan ancaman atau kata-kata awas teriak aku bunuh kamu, bahkan para pelaku melakukan penganiayaan terhadap korban," kata Kamal.

Dia melanjutkan, E langsung mendatangi rumah saudaranya yang berinisal K dan memberitahukan kejadian yang dialami. Setelah itu, E bersama K dan suaminya melapor ke pihak kepolisian.

"Kami menerima laporan, membawa korban ke rumah sakit untuk visum, dan meminta keterangan para saksi," kata Kamal.

Kelompok kriminal bersenjata berulang kali menembaki kendaraan milik PT Freeport Indonesia hingga terlibat kontak senjata dengan aparat TNI dan Polri.

Salah satu aksi yang dilakukan kelompok kriminal bersenjata adalah menembak satu unit ambulans milik PT Freeport Indonesia di distrik Tembagapura, Mimika, Selasa (24/10).

Akibat penembakan ke mobil Ambulance Crew Hospital ISOS Rumah Sakit PT Freeport Indonesia tersebut, seorang perempuan yang baru melahirkan terluka di bagian paha kanan.