Jokowi menyatakan demikian, setelah reklamasi di pantai utara Jakarta itu kembali menjadi perbincangan hangat usai Anies Baswedan dan Sandiaga Uno resmi memimpin Jakarta.
Reklamasi menjadi bahan perbincangan publik, lantaran Anies dan Sandi sejak kampanye hingga menjabat selalu menyatakan akan menghentikan reklamasi di Pantai Utara Jakarta. Sementara keinginan itu bertentangan dengan pemerintah pusat yang tetap ingin melanjutkan pembangunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Jokowi Belum Beri Jawaban Polemik Reklamasi |
Mengenai polemik kelanjutan reklamasi ini, pengamat komunikasi politik Hendri Satrio berpendapat, pernyataan Presiden beberapa hari lalu itu hendak menegaskan bahwa dirinya tidak berkaitan dengan reklamasi.
Pandangan serupa diberikan Pakar Psikologi Politik Hamdi Muluk. Menurutnya, masyarakat termasuk politikus Indonesia kerap menunjuk satu oknum dalam menghadapi masalah, termasuk reklamasi, misalnya Presiden Jokowi.
Ia menilai wajar apabila Jokowi menegaskan dan terkesan menghindar dengan menyatakan dirinya sama sekali tidak pernah mengeluarkan izin di tengah menghangatnya reklamasi.
"Secara psikologi, kalau orang dipojokkan, dia bisa menjadi 'membela diri', siapa pun. Itu wajar saja," kata Hamdi.
Alexis Jadi Tumbal?
Sejatinya gelagat menghindar tak cuma terlihat dari Jokowi. Hendri berpendapat, sikap melepaskan diri terhadap persoalan reklamasi juga dilakukan Anies dan Sandi.
Meski bolak-balik menyatakan akan menyetop proyek reklamasi Teluk Jakarta, langkah nyata belum ditunjukkan pasangan yang didukung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera ini.
Sejak dilantik, Anies dan Sandi selalu diberondong dan ditagih janji kampanye menghentikan proyek yang berpolemik sejak bertahun-tahun lalu. Tetapi, Anies berulang kali juga menyatakan hal yang sama, yakni posisinya tetap tegas sesuai janji kerja.
Ia juga kerap menyampaikan akan memberikan keterangan lebih lanjut usai membahas reklamasi ini bersama DPRD DKI.
Di sisi lain, di tengah maraknya reklamasi, bekas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini menutup hotel dan griya pijat Alexis yang dikelola PT Grand Ancol Hotel. Menurutnya, isu Alexis memang menjadi jurus 'ciamik' guna mengalihkan masyarakat dari realisasi penghentian reklamasi.
"Sampai saat ini Anies juga masih berwacana dengan reklamasi dia bilang menolak. Ia lebih memilih mengalihkan isu dengan menutup Alexis. Memang sepertinya semua sedang menghindari kasus ini dulu," ujar Hendri.
Pemprov DKI Jakarta sebelumnya menyatakan pihaknya memiliki dasar penutupan Alexis dan ini menyangkut juga soal menjaga moral.
“Tapi dasar-dasar itu ada. Kami minta kepada semua pihak untuk menaati keputusan itu," kata Anies.
Anies pun menyebut Pemprov DKI akan senantiasa memantau pergerakan di sekitar Alexis dengan mengerahkan aparat keamanan.
"Nanti kami lihat reaksi dari sana. Tapi yang jelas posisi kami dan sudah tahu kok, ini kan bukan barang yang baru tahu hari ini, sudah berbulan-bulan tahu," katanya.