Pria yang kerap disapa Romo Magnis ini mengatakan, aksi walk out tersebut di negara manapun, di luar pertemuan politik, jarang terjadi.
“Andaikata Gubernur mengatakan sesuatu yang tidak senonoh/jahat/menghina, walk out dapat dibenarkan. Tetapi walk out kemarin menunjukkan permusuhan terhadap pribadi Gubernur merupakan suatu penghinaan publik,” kata Romo Magnis dalam keterangan tertulisnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Magnis menilai, sikap yang benar yang seyogyanya ditunjukkan adalah, “Beri dia kesempatan untuk membuktikan diri, kita Katolik tidak bisa memilih negara di mana kita hidup, 57 persen pemilih Jakarta memilih Anies,” katanya.
Terkait sikap Ananda Sukarlan, Magnis menilai itu adalah haknya untuk menolak Anies. Ananda tidak perlu dicurigai bersikap sektarian. Namun Magnis tetap tidak setuju dengan sikap walk out-nya. Menurutnya, sebagai tamu, Anies semestinya dihormati.
“Silakan panitia dikritik. Tetapi menginisiasikan suatu demonstrasi penghinaan terbuka terhadap Gupernur DKI saya anggap penyalahgunaan kesempatan,” katanya.
Ananda saat Anies berpidato berdiri dari kursi VIP-nya dan walk out. Komponis dan pianis ini mengaku tidak setuju dengan kehadiran Anies.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean) |
Saat pemberian penghargaan kepada lima tokoh, Ananda yang mendapat giliran berpidato selama 10 menit mengkritik panitia penyelenggara karena mengundang Anies.
"Anda telah mengundang seseorang dengan nilai-nilai serta integritas yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan kepada kami. Walaupun Anda mungkin harus mengundangnya karena jabatannya, tapi next time kita harus melihat juga orangnya," ujarnya saat itu.
Terkait aksi walk out ini, Anies mengaku menghormati perbedaan pandangan yang ada.
"Saya memberikan hak kepada siapa saja untuk mengungkapkan dengan caranya," kata Anies.
Ia mengatakan, sebagai Gubernur DKI, menyapa dan mengayomi semua menjadi tanggung jawabnya.
"Kalau kemudian ada reaksi negatif, itu bonus saja buat saya. Biasa saja. Intinya, saya hormati perbedaan pandangan dan itu adalah hak setiap warga," kata Anies. (sur)
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)