Anies Tutup Pidato di Paripurna dengan Pantun Slogan Kampanye

Mesha Mediani , CNN Indonesia | Rabu, 15/11/2017 12:46 WIB
Anies Tutup Pidato di Paripurna dengan Pantun Slogan Kampanye Gubernur DKi Anies Baswedan (kanan) dan Wagub DKI Sandiaga Uno (kiri), di DPRD DKI Jakarta, Gambir, Jakarta, Selasa (7/11). Anies berpantun kala menutup pidato RAPBD DKI 2018. (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saat akan mengakhiri pidato penyampaian Rancangan Pembangunan dan Belanja Daerah (RAPBD) DKI Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melontarkan pantun yang menyitir slogan kampanyenya.

Anies tampaknya akan menyelesaikan pidato yang digelar di gedung DPRD DKI Jakarta, pada Rabu (15/11) itu dengan cara biasa. Salam penutup sudah diucapkan. Ia sendiri belum beranjak sepenuhnya dari mimbar pidato.


Namun, beberapa detik kemudian, Anies kembali menghampiri pengeras suara atau mik di mimbar tersebut. "Saya baca pantun lagi boleh ya?" tanyanya. Hadirin riuh menjawab, "boleh".

"Dari Dukuh naik Trans ke Kota, puas berwisata pulangnya ke Pinangsia. Bersama seluruh warga ibu kota, kita jadikan Jakarta maju dan bahagia," ucap Anies.

Tepuk tangan kemudian menyambut pantun itu. Seorang anggota dewan bersuara lewat mik, "Mantap pantunnya."

Dalam pidatonya itu, ia salah satunya menyampaikan tentang delapan aspek yang jadi fokus dalam RAPBD DKI. Di antaranya, transportasi massal terpadu, penyediaan hunian layak dengan uang muka atau DP Rp 0.


Saat masa kampanye Pilkada DKI 2017, frasa "maju" dan "bahagia" kerapkali disampaikan pasangan Anies Baswdan-Sandiaga Uno. Hal itu secara lengkap termuat dalam slogan, "Maju Kotanya, Bahagia Warganya."

Ketika Anies, yang diusung oleh gerindra dan PKS, berkunjung ke Kelurahan Pademangan Barat, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, Jumat (18/11/2016), seorang warga menanyakan makna dari selogan tersebut.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menjelaskan, "maju" berarti kondisi kota tumbuh dan berkembang, serta memiliki infrastruktur yang baik.


Sementara, kemajuan sebuah kota tidak bisa dilepaskan dari warganya. Alhasil, kata dia, kota yang maju harus memiliki warga yang bahagia. Ciri kebahagiaan warga itu secara mendasar ada pada dua aspek. Yakni, pendidikan yang berkualitas dan kesehatan yang terjamin. (arh)