Dampingi Khofifah, Emil Dardak Resmi Dipecat PDIP

Abi Sarwanto, CNN Indonesia | Kamis, 23/11/2017 18:50 WIB
Dampingi Khofifah, Emil Dardak Resmi Dipecat PDIP PDIP memecat Emil Dardak setelah Bupati Trenggalek itu menerima dipasangkan dengan Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim 2018. (ANTARA FOTO/Reno Esnir)
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) resmi memecat Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak sebagai kader karena maju mendampingi Menteri Khofifah Indar Parawansa sebagai bakal calon wakil gubernur untuk Pilgub Jawa Timur 2018.

''Bung Emil Dardak telah memilih jalan. Partai tentu otomatis memberikan sanksi pemecatan," kata Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (23/11).

Emil diketahui resmi dicalonkan sebagai bakal pasangan calon bersama Khofifah melalui Partai Demokrat dan Partai Golkar. Hal ini bertentangan dengan sikap politik PDIP yang telah resmi mendukung Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas di Pilgub Jatim. 

Bupati Trenggalek kelahiran 1984 itu juga mengatakan sudah berkomunikasi dengan PDIP terkait pencalonannya di Pilgub Jatim, namun itu tak menghalangi PDIP memecat Emil Dardak.

Hasto melanjutkan, langkah Emil tidak menyurutkan partainya untuk menumbuhkan calon pemimpin muda. Emil, kata dia, hanya sedikit gambaran dari orang muda yang memilih loncatan politik, meski baru menjabat dua tahun sebagai Bupati. 

"Jumlah kepala dan wakil kepala daerah PDI Perjuangan yang berusia dibawah 40 tahun sebanyak 34 orang. Hanya 1 orang yang memilih jalan kekuasaan," katanya.

Hasto pun mencontohkan para kepala daerah lain dari PDIP yang lebih memilih menyelesaikan masa jabatannya selama lima tahun dibanding memenuhi hasrat kekuasaan.

Nama-nama itu adalah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, dan Wali Kota Badung Giri Prasta.

"Mereka adalah kepada daerah yang menempatkan kepercayaan penuh pada rakyat terhadap masa depan kepemimpinannya," katanya.

Hasto menegaskan bahwa masih banyak kader yang ingin berproses menjadi pemimpin dengan modal intelektualitas, integritas, dan loyalitas yang tinggi. 

"Mereka akan kami perkuat kesadaran ideologisnya, kesadaran organisasi, politik, sosial budaya dan kesadaran untuk setia pada jalan kerakyatan yang mengabdi pada bangsanya,” kata Hasto. (wis)