Ruddy Agusyanto
Penulis adalah pengajar di Departemen Antropologi Universitas Indonesia, Direktur Operasional di Pusat Analisa Jaringan Sosial (PJAS), dan Institut Antropologi Indonesia (IAI), peneliti ahli di Dewan Pertimbangan Presiden bidang Pendidikan dan Kebudayaan. Ruddy juga merupakan penulis buku ''''Fenomena Dunia Mengecil''''

Pola Pikir Jaringan dan Kemacetan Lalu Lintas

Ruddy Agusyanto, CNN Indonesia | Jumat, 24/11/2017 09:21 WIB
Pola Pikir Jaringan dan Kemacetan Lalu Lintas Foto: CNN Indonesia/Fajrian (diolah dari thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak jarang kita menemukan jalan-jalan tol Jakarta yang macet pada jam-jam tertentu, sementara arus lalu lintas di ruas lainnya relatif lancar. Sebaliknya, dalam waktu-waktu tertentu pula, jalan yang semula macet itu berada dalam keadaan sepi atau lengang.

Kondisi ini juga berlaku di jalan-jalan non-tol.

Pada momen lain, jalanan yang macet pada waktu tertentu itu akan terurai ketika ada petugas yang berjaga dan mengatur arus di titik-titik simpulnya.

Dalam hal ini, tentunya saya tidak bermaksud  mengatakan bahwa persoalan kemacetan bisa diatasi hanya lewat pengaturan dan penegakan hukum semata. Namun, kesimpulan sederhana yang bisa ditarik dari dua ilustrasi di atas adalah sesungguhnya jalan tol dan non-tol masih memiliki kapasitas ruang memadai agar kemacetan tidak terjadi.

Dengan kata lain, dua kasus di atas menunjukkan bahwa masalah kemacetan bukan sekadar soal daya tampung jalan yang tidak memadai.

Namun, mengapa upaya pemerintah untuk mengurai kemacetan justru lebih terfokus pada masalah daya tampung jalan?

Upaya-upaya itu lebih sering berkutat pada masalah terobosan penambahan kapasitas jalan, baik dengan membuat jalan baru atau menambah kapasitas jalan lama – secara horizontal maupun vertikal.

Atau, contoh lainnya, pengurangan jumlah atau volume kendaraan, misalnya dengan pengaturan genap-ganjil, batasan jam (3 in 1), atau larangan terhadap jenis kendaraan tertentu seperti becak.

Selain itu, juga dilakukan penataan ulang ruang kota lewat pembagian ruang-ruang aktivitas sosial seperti area bisnis, perkantoran, hiburan/rekreasi, pemukiman dll - dikelompok-kelompokan, agar lebih mudah mengatur arus lalu-lintas, sehingga mampu mengendalikan kepadatan volume kendaraan.

Kedua upaya di atas, pada kondisi tertentu dan dalam jangka pendek, memang relatif efektif untuk mengurai kemacetan.

Hanya saja, seiring dengan upaya mengatasi kemacetan itu,  secara bersamaan ruang-ruang bisnis, kantor, hunian, rekreasi juga bertumbuh secara luas biasa, baik  horizontal maupun vertikal. Demikian pula dengan jumlah produksi kendaraan serta pertumbuhan penduduk yang dipengaruhi kelahiran dan migrasi.

Tentu pertumbuhan-pertumbuhan itu tidak bisa dicegah dan kemudian melampaui pertumbuhan ruang atau kapasitas jalan. Pada akhirnya, pertumbuhan ruang jalan lalu-lintas tidak sebanding dengan tingkat pertumbuhan semua itu, tidak mampu mengejarnya  karena keterbatasan ruang atau lahan dan biaya yang tersedia.

Namun, perlu diingat bahwa semua aktivitas sosial, termasuk berlalu-lintas, selalu terkait “ruang dan waktu”.

Selama ini kita lebih berkutat pada masalah “ruang” sehingga upaya mengurai  kemacetan lalu-lintas selalu hanya terfokus pada penyiasatan ruang, entah itu  penambahan atau pengaturan ruang, baik itu jalan atau ruang aktivitas sosial lainnya.

Demikian juga dengan pengaturan tentang jaringan atau keterhubungan semua titik simpul baik itu area kegiatan, titik-titik simpul jalan, jalan penghubung antar titik-titik simpul tsb, dan arus dari titik yang satu menuju titik yang lain, sebagai satu kesatuan yang utuh agar masing-masing jalur tidak dialiri muatan yang melebihi kapasitasnya.

Ini semua memperlihatkan bahwa perhatian kita masih tetap terfokus pada persoalan ruang, dan hanya sedikit  yang terfokus pada waktu. Sejauh ini, soal waktu hanyadikaitkan  sebatas kelancaran atau waktu tempuh.

Persoalan waktu itu belum dikaji seluas dan sedalam seperti saat   mengupas persoalan ruang atau koneksitas antar-ruang.

Atau, lebih tepatnya, kita hanya menyiasati ruang dan waktu di jaringan jalan, tetapi tidak atau belum menyiasati waktu untuk ruang-ruang selain jalan raya.

Ini sesungguhnya suatu ironi. Di saat era digital memunculkan sifat kesegeraan dan keserempakan, lalu-lintas justru membuat kita menjadi susah karena kemacetan yang semakin padat dan tak terkendali.  

Kita mungkin bisa bercermin pada layanan publik satu-pintu atau layanan online seperti e-banking, toko online, taxi online, travel online. Layanan-layanan ini bisa membuat kendala ruang dan waktu tak jadi masalah.

Mereka membuat hidup kita menjadi serba mudah, cepat dan efisien. Tak hanya itu, mereka sebenarnya juga ikut mengurangi kemacetan lalu-lintas.

Ini yang belum terpikirkan kita dalam persoalan kemacetan. Seberapa besar sumbangsih layanan-layanan online ini dalam mengurangi kemacetan.

Tentu diperlukan adanya kajian lebih lanjut., tapi yang pasti mereka telah berhasil memampatkan ruang dan waktu.

Catatan untuk Aplikasi Online

Satu hal yang perlu diingat juga, aplikasi online tidak selalu menguntungkan atau memudahkan hidup . Perlu dipahami terlebih dahulu untuk bisa menggunakan atau memanfaatkannya secara bijak.

Misalnya saja aplikasi seperti Google Map atau Waze. Kita bisa memilih jalan-jalan yang bisa membuat lebih cepat sampai ke tujuan berdasarkan arahan aplikasi online, bisa melihat jalan-jalan yang macet dan tidak macet.

Hanya saja, aplikasi onlinepun belum banyak menolong untuk menghilangkan kemacetan.

Alasannya adalah, ketika mengetahui ada kemacetan di sepanjang rute perjalanan kita, maka kita bisa menghindari dengan memilih rute yang ditawarkan oleh aplikasi online tersebut.

Namun, pada saat kita bergerak menuju jalan-jalan yang dianjurkan, secara bersamaan pula beberapa pengendara lain - yang secara kebetulan menghindari kemacetan di area tertentu atau area yang sama tadi - menempuh jalan alternatif yang sama pula.

Akibatnya, dalam perjalanan, volume kendaraan di jalur alternatif ini pun padat dan terus meningkat.

Kita lupa bahwa salah satu karakter utama dari dunia online adalah “kesegeraan dan keserempakan”, menyebabkan pengendara berbondong-bondong pula menggunakan rute yang disarankan  Google Map atau Waze tadi.

Ini seperti yang diungkapkan oleh peraih nobel 2017, Richard Thalet sang pakar Behavioral Economics, bahwa kita sering berpikir irasional, yang disebutnya Herd Thinking.

Bila ada salah satu pengendara belok kiri (keluar dari jalan yang macet), maka berbondong-bondonglah pengendara yang lain ikut belok ke kiri. Ibarat sebuah buku, yang dilabel best seller, maka jumlah penjualan akan terus melonjak. Jadi, fasilitas digital Ini, juga memberikan sumbangan terhadap cepat menularnya penyakit “latah”, sehingga menyebabkan terjadinya kemacetan.

Memang, tekonologi informasi dan komunikasi di era digital ini, kadang bisa menguntungkan, tetapi bisa juga merugikan. Semua tergantung cara kita memahami dan bijak menyikapinya.

Dalam hal ini, kita memang masih perlu melek digital - literasi digital.

Kembali pada persoalan mengatasi kemacetan lalu-lintas. Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa upaya  selama ini lebih terfokus pada persoalan “ruang” - tentang menyiasati ruang (jalan) yang terbatas dan koneksitas antar ruang-ruang aktivitas, tetapi belum memberikan banyak perhatian pada persoalan “waktu” - yaitu, bagaimana kita menyiasati waktu.

Sudah saatnya kita mempertanyakan kenapa kita harus berbondong-bondong ke kantor pada jam 08.00 - 17.00, atau kenapa anak-anak belajar di sekolah ramai-ramai pada jam 07.00 - 13.00.

Mari kita berikan perhatian kita untuk menyiasati “waktu”, sebab semua aktivitas manusia selalu berada pada “ruang dan waktu”.

Kita terkoneksi tidak hanya berdasarkan ruang, tetapi juga oleh waktu.

(vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS