Doli menyebut Setnov menganggap Golkar dan DPR sebagai milik pribadi dan tak memperhatikan desakan kader di akar rumput yang memintanya mundur.
"Surat itu menunjukan Novanto menganggap Golkar dan DPR ini sebagai milik pribadi," ujar Doli dalam sebuah diskusi bertajuk 'Beringin Diterpa Angin' di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (25/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Doli menyatakan, dalam dua tahun terakhir dinamika dan rapat-rapat internal di partai berlambang beringin seperti halnya rapat di sebuah perusahaan, beda dari era Akbar Tanjung yang rapatnya dinamis dan demokratis.
"Kalau dari prosedur ya memang mungkin dalam dua tahun terakhir ini rapat dinamis, biasanya itu kaya rapat perusahaan. Kaya seminar, baru disimpulkan," tuturnya.
"Maka (lewat) pesan komunikasi politik itu, menurut saya posisi SN masih cukup kuat dalam konteks mempengaruhi putusan pleno," kata dia.
Gun Gun juga menyoroti keputusan Rapat Pleno DPP Golkar yang tak bersikap tegas mengganti posisi Setnov sebagai kursi Ketua DPR dengan kader lain.
Dia berpendapat, partai berlambang beringin itu sebaiknya tidak mempertahankan seseorang yang sudah berstatus tersangka demi menjaga kepentingan publik dan komitmen kebangsaan. Setnov sendiri diduga terlibat dalam korupsi e-KTP yang ditaksir merugikan negara hingga Rp2,3 triliun.
"Partai Golkar menunjukkan semacam komitmen kebangsaan ya, bahwa tidak kemudian mempertahankan orang yang sekarang sedang dalam status tersangka itu di posisi puncak tertinggi DPR begitu," tuturnya.
Lihat juga:Setnov Biarkan Golkar Jadi Zombie |
(vws)