Menurut dia, teroris berpotensi mengusik agenda-agenda berskala internasional, tak terkecuali Asian Games yang akan dilaksanakan di Jakarta dan Palembang dan Bank Dunia-IMF yang bertempat di Bali.
“Selalu saja ada kelompok-kelompok yang coba menebar gangguan untuk mendapatkan perhatian dari komunitas internasional, termasuk ancaman teror. Makanya, Polri, TNI dan BIN perlu meningkatkan kewaspadaan karena migrasi teroris terus berlangsung,” ujarnya, Sabtu (2/12) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Lazimnya, dalam event-event besar seperti itu, mereka akan mencari celah atau kesempatan untuk menunjukkan eksistensi mereka. Tak tertutup kemungkinan jika mereka pun membidik dua event besar di Indonesia itu,” imbuh dia.
Sebagai contoh, awal November lalu, pihak berwenang Filipina telah menangkap seorang WNI yang diduga ingin bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf di Marawi, Filipina Selatan.
Kelompok yang dimaksud, yaitu Abu Sayyaf, Jemaaah Islamiyah (JI), dan Muhjahidin. Kelompok teroris ini telah menyediakan tempat perlindungan bagi para pelaku teror yang melarikan diri dari Mosul, Aleppo, dan Raqqa.
Pernyataan Hussein itu tentu saja bukan informasi baru bagi Polri, TNI dan BIN. Namun, tetap layak diterima untuk menyegarkan ingatan dan kewaspadaan nasional, mengingat Indonesia akan menjadi tuan rumah dari dua event besar berskala internasonal. (bir)