Hal tersebut disampaikan dalam paparan visi dan misinya sebagai calon Panglima TNI pada rapat dengar pendapat umum dengan Komisi I DPR, Jakarta, Rabu (6/12).
"Pada perkembangan selanjutnya, terorisme juga sebagai alat pengondisian wilayah," ujar Hadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hadi mencontohkan, pengondisian wilayah akibat terorisme terjadi di kawasan Timur Tengah, seperti Suriah dan Irak. Ia berkata, terorisme di kawasan tersebut bahkan sudah bersifat proxy war dan hybrid war.
"Arus globalisasi informasi yang tidak mungkin dibendung (juga) telah mampu secara cepat menyebarkan pengaruh dan bahkan mengaktifkan sel tidur atau simpatisan di dunia untuk mendukung kepentingannya," ujarnya.
Di sisi lain, Hadi menyebut, perang di dunia maya (cyber warfare) juga harus menjadi pertimbangan utama dalam penyelenggaraan fungsi-fungsi pertahanan dan keamanan nasional.
Kekuatan perang itu, kata dia, terlihat saat Amerika Serikat dan Israel menghentikan program nuklir yang dilakukan Iran melalui virus stuxnet.
"Meskipun serangan stuxnet belum mampu menghentikan program nuklir Iran, namun konsep ini menunjukkan bahwa serangan siber dapat menjadi suatu opsi yang setara dampaknya dengan senjata kinetik," ujarnya. (pmg/djm)