Gelar Sultan Banten ke-18 Digugurkan Pengadilan Agama

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 14/12/2017 03:37 WIB
Gelar Sultan Banten ke-18 Digugurkan Pengadilan Agama Ilustrasi. (Anadolu Agency/Eko Siswono Toyudho).
Serang, CNN Indonesia -- Pengadilan Agama (PA) Serang telah membatalkan kepangkatan gelar Sultan ke-18 yang disandang oleh Ratu Bagus Bambang Wisanggeni.

"Jadi tidak ada penetapan satu-satunya penerus Kesultanan Banten. Kami puas dengan putusan ini," kata KMS Herman, pengacara dzuriyat Kesultanan Banten, ditemui di PA Serang, Rabu (13/12/2017).

Pembatalan ini dilakukan melalui sebuah proses mediasi dan persidangan yang panjang, sejak 13 April 2017 sesuai perkara gugatan nomor 786/PDTH/2017.


"Kedudukannya (Rt.Bagus Bambang Wisanggeni) sama dengan yang lain, sebagai dzuriyat Kesultanan Banten," terangnya.

Di sisi lain, Ratu Bagus, berencana mengajukan naik banding atas putusan PA Serang tersebut. Hal itu dilakukan karena dirinya merasa sebagai pewaris sah Kesultanan Banten saat ini.

"Saya sebagai pewaris sah Kesultanan Banten terakhir itu harusnya tidak dihapus. Nah ini dihapus, dan saya akan naik banding," kata Ratu Bagus, ditempat yang sama, Rabu (13/12/2017).

Sebelum mengajukan banding, Ratu Bagus meminta agar Dzuriyat Kesultanan Banten mau berdamai dengan dirinya.

"Paling tidak kedepan kami ada islah, bersatulah, forum dzuriyat dengan kami bersatu lah, tidak ada perpecahan," jelasnya.

Perlu diketahui bahwa Kesultanan Banten yang telah runtuh kembali diramaikan dengan kehadiran Sultan Banten ke-18 bernama Ratu Bagus Bambang Wisanggeni.

Kehadirannya kemudian di gugat oleh Forum Dzuriyat Kesultanan Banten (FDKB) yang merupakan forum keluarga keturunan Sultan Banten, ke PA Serang. Rt Bagus menganggap dirinya memiliki garis terkuat dari Sultan Banten terakhir, Sultan Syaefuddin.

Kesultanan Banten berdiri sejak 1552 hingga 1813 Masehi. Kesultanan Islam di Tanah Sunda ini bertahan hingga tiga abad, sebelum hancur lebur karena perang saudara.

Pada masa akhir pemerintahan, para Sultan Banten tidak lebih dari raja bawahan pemerintahan kolonial Belanda.

Perselisihan ini bukan pertama kalinya terjadi. Pada tahun 1680, pernah muncul perselisihan dalam Kesultanan Banten akibat perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng dengan putranya Sultan Haji.

Perpecahan ini akhirnya dimanfaatkan oleh VOC untuk memberikan dukungan kepada Sultan Haji, sehingga terjadilah perang saudara.

Sultan Haji mengirimkan dua orang utusan menemui Raja Inggris tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan. Dalam perang ini, Sultan Ageng terpaksa mundur ke daerah bernama Tirtayasa dan ke pedalaman Sunda. Hingga akhirnya tertangkap dan ditahan di Batavia.

Kini, sisa kejayaan Kesultanan Banten hanya Masjid Agung Banten yang masih tegak berdiri. Sedangkan Benteng Surosowan dan Keraton Kaibon hanya tersisa fondasinya. Karena kebesarannya itulah, banyak masyarakat dari berbagai wilayah di Nusantara berziarah ke makam Sultan Maulana Hasanuddin dan beribadah di Masjid Agung Banten. (Yan/lav)


ARTIKEL TERKAIT