Hal itu merespons wacana ihwal sejumlah kader Golkar seperti Priyo Budi Santoso dan Titiek Suharto yang berniat menjadi pesaing Airlangga Hartarto sebagai caketum Golkar dalam Munaslub.
"Saya kira kalau istilahnya Munaslub itu ada pemilihan. Maka pemilihan itu dimungkinkan bagi siapa saja untuk ikut mencalonkan diri," ujar Ibnu di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Jumat (15/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibnu menuturkan, Munaslub akan menunjuk Airlangga sebagai Ketum Golkar secara aklamasi jika tidak ada kader yang mendaftar sebagai Caketum.
Ibnu juga membeberkan sejumlah agenda yang akan dibahas di Munaslub, antara lain penyampaian laporan pertanggungjawaban DPP terkait pelaksanaan Munaslub dan dilanjutkan pandangan umum dari para peserta.
Setelah proses itu, Munaslub akan melakukan demisioner terhadap Airlangga selaku Ketum Golkar yang dipilih dalam rapat pleno pada 13 Desember 2017 menggantikan Setya Novanto yang telah menjadi terdakwa kasus dugaan korupsi proyek e-KTP.
Sementara untuk proses pemilihan Ketum akan langsung dilakukan jika peserta Munaslub tidak meminta ada perubahan AD/ART partai.
"Karena mereka sudah membahasnya dari sekarang, berubahnya bisa ditetapkan di paripurna. Sesudah itu agenda pemilihan," ujar Ibnu.
Ketua umum terpilih nantinya akan didaulat menjadi Ketua Formatur dan anggota lainnya akan membantu menyusun kepengurusan.
"Kalau di Munaslub, kewenangan apa saja bisa diputuskan. Karena itu instansi pengambilan keputusan tertinggi," ujarnya.
Lebih dari itu, Ibnu memastikan, Munaslub tidak akan membahas soal pergantian Ketua DPR karena hal itu akan dibahas oleh Ketum terpilih bersama pengurus baru melalui rapat pleno.
"Enggak ada agenda khusus itu. Itu mungkin nanti jadi domainnya ketua umum terpilih bersama pengurusnya. Itu pleno saja," ujar Ibnu. (wis)