Bahas Dinamika Geopolitik, Kris Wijoyo Soepandji Rilis Buku

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 18/12/2017 10:53 WIB
Bahas Dinamika Geopolitik, Kris Wijoyo Soepandji Rilis Buku Kris Wijoyo Soepandji S.H., M.P.P., pengajar Dasar-Dasar Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) saat peluncuran bukunya yang berjudul Ilmu Negara: Perspektif Geopolitik Masa Kini di Menara Batavia, Jakarta (Sabtu, 16/12/2017) (Dok. Jababeka)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dewasa ini, berbagai dinamika geopolitik memiliki dampak bagi situasi global, tidak terkecuali di Indonesia. Di antara lain adalah perebutan pengaruh antara Amerika Serikat-Tiongkok, konflik di Timur Tengah, hingga merebaknya gerakan radikalisme mengatasnamakan agama yang bersifat transnasional.

Kris Wijoyo Soepandji S.H., M.P.P., pengajar Dasar-Dasar Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) saat peluncuran bukunya yang berjudul Ilmu Negara: Perspektif Geopolitik Masa Kini di Menara Batavia, Jakarta (Sabtu, 16/12/2017), menyampaikan, dinamika-dinamika tersebut dapat berpengaruh pada stabilitas nasional.

Apalagi, Indonesia akan memasuki tahun politik pada tahun 2018 dan 2019 yang berpotensi menimbulkan perpecahan di antara sesama anak bangsa. Apalgi, dinamika geopolitik bisa berpengaruh langsung maupun tidak langsung pada kepentingan bangsa Indonesia, baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan militer.


Lebih lanjut, Founding Partner di Krisna Strategic Policy Firm ini menyebutkan dalam bukunya, ada empat peristiwa sejarah penting yang dipengaruhi dinamika geopolitik, yaitu pertama, jatuhnya Konstantinopel ke tangan Dinasti Ottoman yang mendorong bangsa-bangsa Eropa untuk mencari jalur alternatif distribusi sumber daya alam dengan cara menguasai jalur perdagangan komoditas dari Asia, Amerika, dan Afrika; kedua, diplomasi kemerdekaan Indonesia (1945-1949); ketiga diplomasi kembalinya Irian Barat ke Ibu Pertiwi yang berlangsung pada masa Perang Dingin antara Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet; dan keempat, lepasnya Timor Timur dari Indonesia pada tahun 1999 setelah berakhirnya Perang Dingin. Pada saat itu opini internasional semakin menyudutkan Indonesia sehingga berujung pada diadakannya jajak pendapat pada tahun 1999.

“Secara umum, geopolitik berbicara tiga hal, pertama, interaksi manusia dalam suatu hubungan kekuasaan (politik) di dalam suatu ruangan tertentu; kedua, aktor utama geopolitik yang tidak lagi berpusat pada negara, tapi pada aktor selain negara yang semakin punya peran dan legitimasi yang tinggi; dan ketiga, berkaitan dengan penguasaan dan pemanfaatan sumber daya,” ungkap Kris Wijoyo yang mendapat gelar masternya di National University of Singapore.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Studi Dasar-Dasar Ilmu Hukum FHUI Budi Darmono, S.H., Ph.D mengatakan, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 merupakan bukti kesadaran geopolitik dari para pendiri bangsa  (founding fathers)  Indonesia. Saat itu, Proklamasi Kemerdekaan dilakukan para pendiri bangsa dengan memanfaatkan momentum kekosongan kekuasaan setelah Jepang menyerah pada Sekutu tanggal 15 Agustus 1945.

Sebelum Proklamasi Kemerdekaan, para pendiri bangsa yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945 bersidang untuk merumuskan dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila. Dalam hal ini, Pancasila telah menawarkan suatu gagasan baru pada dunia tentang kenegaraan. Hingga kini, dunia secara umum dikotomi antara negara teokrasi dan negara sekuler.

“Namun, dengan mengakui prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, Pancasila menawarkan jalan tengah untuk tidak menjadi negara teokrasi maupun negara sekuler. Jalan tengah yang ditawarkan oleh Pancasila inilah yang dibutuhkan dalam mewaspadai dinamika geopolitik,” kata Budi Darmono.

Peluncuran buku yang diselenggarakan oleh President University, FHUI dan Forum Diskusi Nasionalis Muda serta didukung Krisna Strategic Policy Firm ini juga dihadiri para tokoh nasional, seperti Mantan Panglima TNI Jendral Purn. Muldoko sebagai keynote speaker, Mantan Gubernur Lemhannas Prof. Budi Susilo Soepandji dan Prof. Dadan Umar Daihani dari Lemhannas.

(vws)