"Pidatonya mantap-mantap," begitu kata Ical, sapaan Aburizal.
Ical tahu betul siapa Airlangga. "Beliau dari kecil terus mahasiswa bergerak dalam bidang organisasi," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ical yakin Airlangga yang telah terpilih menggantikan Setya Novanto akan membawa Golkar ke arah yang lebih baik.
Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A) |
Meski bayang-bayang nama besar ayahanda selalu melekat, Airlangga tak berarti diistimewakan. Dia meniti karier di dunia bisnis dan politik dari bawah.
Lahir di Surabaya, 1 Oktober 1962, Airlangga menghabiskan masa remaja nya di Jakarta. Ayah delapan anak itu bersekolah di SMA Kolese Kanisius, Jakarta. Di Kanisius, Airlangga sempat menjabat sebagai Ketua OSIS.
Saat itu, karier Hartarto sedang melejit. Pada 1973, Hartarto menjabat Direktur Pembinaan Industri Kimia. Lalu 1975, ia diangkat sebagai Direktur Industri Silikat. Empat tahun berikutnya, Direktur Jenderal Industri Kimia ia jabat. Lalu pada 1983, Hartarto menjadi Menteri Perindustrian Indonesia.
Lulus dari UGM, ia melanjutkan ke Advanced Management Program (AMP) the Wharton School University of Pennsylvania, Philadelphia pada 1993.
Lalu ia naik jenjang studi ke Master of Management Technology (MMT) The University of Melbourne, Australia pada 1996 dan Master of Business Administration (MBA) Monash University Melbourne, Australia pada 1997.
Karier politik Airlangga dimulai pada 2004 saat ia menjadi anggota DPR dengan Golkar sebagai kendaraan politiknya.
Ia menjadi penghuni Senayan selama tiga periode sebelum ditarik Jokowi menjadi Menperin.
Setelah memulai karier politiknya, Airlangga banyak dipercaya menjadi pemimpin di sejumlah organisasi.
Ia pernah menjabat Ketua Keluarga Alumni UGM, Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia, dan Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia.
Di Partai Beringin, Airlangga pernah menjabat sebagai Wakil Bendahara DPP Golkar.
Ia juga pernah jadi Ketum Kosgoro pada pertengahan 2000-an. Lalu Airlangga menjadi Ketua Usaha Kecil dan Menengah Koperasi DPP Partai Golkar pada 2011-2014.
Perjalanan karier politik Airlangga mencapai puncak 13 Desember 2017 saat ia dipercaya sebagai nakhoda partai beringin.
Dengan jabatan sebagai Ketua Umum, Airlangga seolah lepas sejenak dari nama besar sang ayah. Sebab, jabatan itulah yang membedakan Hartarto dengan sang anak. Hartarto belum pernah naik di pucuk Beringin.
Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)